Punya kualifikasi bicara dengan orang muda?

jpii-jugaPada acara International AIDS Conference 2006 di Toronto, Vineeta (usia 6) dan Sevilla (usia 4) hadir menemani orang tua mereka untuk membuat film tentang konferensi itu. Mereka mewawancarai ahli AIDS terkenal, aktivis gay, distributor kondom, dan banyak tokoh-tokoh lainnya yang hadir.

Sekali waktu, Dr.Mark A.Wainberg – salah seorang pimpinan konferensi, ditanya oleh kedua anak ini “Bagaimana AIDS bisa masuk kedalam tubuh Anda? Kenapa orang-orang ingin berhubungan seks?” Dr.Mark  menghindar dengan tertawa gugup. “AIDS masuk kedalam tubuh dengan cara yang… yang cukup rumit untuk dijelaskan pada anak kecil,” katanya. Lalu ia melanjutkan “Dengan cara yang sama seperti hubungan ayah dan ibu… yang akhirnya menyebabkan kita bisa lahir di dunia. Kamu menanyakan pertanyaan yang bagus. Saya tidak tahu apakah saya berkualifikasi menjawab pertanyaan kamu.” (http://www.nytimes.com/2008/02/26/health/26aids.html?_r=1)

Dr. Mark A. Wainberg, O.C., O.Q., Ph.D adalah seorang ahli riset AIDS berusia 60an, dan menjabat sebagai Direktur McGill University AIDS Centre di Montreal Jewish General Hospital, serta Professor of Medicine and of Microbiology di McGill University (http://en.wikipedia.org/wiki/Mark_Wainberg). Ia sangat menguasai bidangnya, dan ia sangat kompeten untuk menjawab pertanyaan tadi. Namun sayangnya, ia tidak tahu bagaimana berkomunikasi dengan anak kecil, sehingga ilmu pengetahuannya menjadi kurang berguna bagi anak kecil tadi.

Ada banyak “anak kecil” dalam Gereja, yaitu orang-orang yang mungkin kurang mengerti akan Allah dan kasihNya – misalnya banyak orang muda. Ada banyak juga “Dr.Mark A Wainberg, O.C., O.Q., Ph.D” dalam Gereja, yaitu orang-orang yang ahli teologi, filasafat, eklesiologi, sakramentologi, kristologi, bibliologi, pneumatologi, dan sebagainya – misalnya para uskup, para imam, katekis, guru agama, para koordinator bidang pelayanan, dan pewarta awam. Namun pertanyaannya adalah: Apakah mereka (termasuk saya), berkualifikasi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan orang muda? Apakah mereka, atau kita, tahu bagaimana berkomunikasi dengan orang muda? Karena bila tidak, jangan-jangan ilmu pengetahuan ini juga menjadi kurang berguna.

Mau didengarkan oleh orang muda? Setidaknya dewasa ini ada 3 kualifikasi utama yang dibutuhkan seseorang untuk berbicara tentang Tuhan kepada orang muda:

1.    Love for God – Mencintai Tuhan

2.    Love for the Young – Mencintai orang muda

3.    Communication Skill – Kemampuan komunikasi

 

1.    Love for God

Orang muda dewasa ini sangat kritis. Kita tidak bisa berbicara tentang Tuhan serta kebenaran dan kasihNya yang begitu besar kalau kita sendiri tidak tinggal di dalam kasih dan kebenaran ini. St.Fransiskus dari Asisi pernah mengatakan “Beritakan Injil, kalau perlu dengan kata-kata”. Hari ini mungkin lebih dari sebelumnya, seruan ini bergema begitu lantang dan begitu relevannya bagi pewartaan kepada orang muda. Kita harus menghidupi apa yang kita wartakan. Bila tidak, orang muda akan melihat dalam diri kita, bahwa kita cuma pembicara dan bukan pelaku Firman. Kalau kita tidak menghayati dan menjalani hidup yang sesuai dengan kasih Allah dan kebenaranNya seperti yang diajarkan Gereja, maka percayalah, orang muda akan bisa melihat itu, dan mereka tidak akan peduli dengan apa yang kita wartakan. Mereka akan berkata “Ah dia bisanya cuma ngomong doang, tapi kelakuannya tetep aja ngga beda sama yang lain”. Dari pengalaman saya, kita tidak bisa bohong dengan orang muda. Kalau kita sungguh mengasihi Tuhan, kalau kita sungguh rindu hidup dalam kasih dan kebenaranNya, maka hal ini pasti terlihat lewat hidup kita sehari-hari – dan keyakinan iman inilah yang ingin dilihat oleh orang muda. Mereka mungkin tidak berkomentar waktu mendengarkan kita bicara, tapi satu hal yang pasti: action speaks louder than words!

Contoh yang saya paling suka dan menurut saya paling nyata adalah Bunda Maria. Bayangkan, hanya dengan kehadirannya saja Elizabeth bersuka cita, bahkan bayi dalam kandungannyapun melonjak kegirangan. Ia adalah pewarta terbesar sepanjang jaman!

Apakah saya begitu menyatu dengan kasih dan kebenaranNya sehingga kehadiran saya menjadi sukacita bagi sesama? Atau waktu orang muda mendengar nama saya, mereka justru jadi malas untuk terlibat dan hadir? Apakah saya sungguh mengasihi Allah sehingga sharing saya tentang Allah sungguh-sungguh hidup dan “menghidupkan” orang muda?

 

2.    Love for the young

Ada orang yang bicara tentang orang muda atau kepada orang muda karena sok peduli, ada juga yang karena malu kalau tidak ikut-ikutan Gereja memperhatikan orang muda, ada juga yang karena butuh aktualisasi diri di audience yang lebih muda, supaya dihormati dan dipandang penting. Apapun alasannya, Tuhan bisa bekerja lewat alasan itu, dan bahkan memurnikannya. Dan apapun alasannya, percayalah, orang muda akan bisa melihat alasan itu. Di sisi lain kalau seseorang bicara tentang orang muda dan kepada orang muda, karena ia sungguh-sungguh mencintai mereka, maka orang muda juga akan bisa melihat hal ini. Alasan apapun yang ada di dalam hati kita, pasti akan terungkap dan terlihat lewat apa yang kita lakukan, dan katakan. Satu hal yang perlu dicatat: Orang muda mencintai kejujuran dan ketulusan.

Cinta itu sabar, murah hati, dan rela menderita. Berapa banyak yang sabar, murah hati, dan rela menderita bagi orang-orang muda? Kebun anggur orang muda bukan kebun anggur yang mudah dilayani dan dikelola, karena isinya adalah hati-hati yang idealis namun banyak terluka dan banyak mencari arti serta tujuan hidup. Gejala negatif yang tampak di permukaan, seperti seks bebas, narkoba, indiferentisme, dan sebagainya, seringkali adalah buah dari apa yang mereka terima di rumah – tanpa mempersalahkan pihak manapun. Tapi yang menerima “cap negatif” adalah generasi orang muda yang sebetulnya adalah “korban” dari situasi rumah dan lingkungan yang ada. Ada pepatah tua yang mengatakan “Buah apel jatuh tidak jauh dari pohonnya”. Mudah-mudahan pepatah ini tidak 100% benar.

Mencintai berarti selalu mau yang terbaik bagi orang yang kita cintai. Yang terbaik tidak harus berarti apa yang kita mau, dan yang terbaik tidak harus memaksakan apa yang menurut kita baik. Berapa banyak orang bilang peduli akan orang muda, tapi memaksakan orang muda harus ikut pendapatnya, karena kalau tidak, orang muda dicap sok tahu dan pemberontak?

Mencintai berarti hadir dan mendengarkan. Ada banyak orang yang di atas panggung atau di pertemuan para pemimpin mengungkapkan kata-kata indah mendukung orang muda, tapi hanya sedikit yang mau ada di tengah-tengah mereka dan mendengarkan seruan hati mereka. Mendengarkan berarti mencari seruan hati terdalam dan tetes air mata yang telah menggunung di balik kata-kata canda mereka, yang mungkin menurut saya tidak berguna atau mungkin “mengganggu” karena tidak cocok dengan gaya senda gurau saya.

Mencintai berarti mau mempercayai dan bahkan memberi ruang bagi orang yang kita cintai untuk berbuat salah, karena cinta selalu membangun dan memaafkan. Beberapa waktu yang lalu topik “yang muda yang memimpin” banyak mewarnai media, apalagi seputar perayaan 80 tahun Sumpah Pemuda. Barrack Obama pun konon terpilih salah satunya karena ia dianggap mewakili generasi yang lebih muda, dan memiliki harapan untuk menciptakan perbedaan. Hampir semua berbicara positif tentang ide ini. Tapi berbicara dengan orang muda tidak bisa berhenti di ide-ide saja. Ide positif tentu adalah satu hal baik, tapi orang muda perlu melihat ide-ide ini diwujudkan. Make things happen! Beberapa kali saya bicara sharing dengan orang-orang muda, dan sambil bercanda dan tertawa mereka berkata “Kalau mau buat konsep dan keputusan, biasanya kita ngga diajak – apalagi kalo menentukan jatah alokasi dana. Giliran disuruh-suruh bantu acara, baru kita dihubungin untuk kerja di lapangan…ha..ha.. Tapi ngga apa-apa lah, udah biasa…

Puji Tuhan, akhir-akhir ini Gereja banyak sekali memberi ruang bagi orang muda untuk berkarya, sehingga mudah-mudahan senda gurau seperti itu mulai berkurang.

Tapi sekali lagi, cinta yang kuat bagi orang muda pasti terlihat oleh mereka, dan ini memberi kredibilitas yang besar bagi seseorang untuk berbicara dengan orang muda. Tanpa kasih dan kehadiran di tengah-tengah mereka, biasanya mereka akan bilang “Siapa sih ini orang? Ngga pernah kelihatan, eh tiba-tiba ngomong panjang lebar dan kita disuruh dengerin dan nurutin dia… zzz…zzz…zzz… Kita cabut aja yuk…

 

3.    Communication Skill

Ben de sana şunu söyleyeyim, sen Petrus’sun ve ben topluluğumu bu kayanın[] üzerine kuracağım. Ölüler diyarının kapıları ona karşı direnemeyecek. 

Apakah ada yang mengerti bahasa di atas? Mohon maaf, saya juga tidak mengerti karena itu bahasa Turki. Kalau saya bicara dengan orang Turki, mereka pasti mengerti artinya. Tapi waktu saya bicara dengan orang Indonesia, saya harus berbicara dengan bahasa Indonesia, supaya pendengar mengerti maksudnya.

Tulisan di atas adalah Injil Matius 16:18, yaitu “Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.”

Nah, sekarang kita semua mengerti maksudnya.

Begitu juga bila berkomunikasi dengan orang muda awam, kita harus menggunakan bahasa yang dimengerti oleh orang muda awam – bukan orang muda rohaniwan yang sedang belajar teologi di Sekolah Tinggi Filsafat misalnya. Penggunaan bahasa yang salah menjadikan seluruh konten bahasan/pembicaraan menjadi tidak relevan, membosankan, dan bahkan bisa menyebabkan salah pengertian! Akibatnya, Kabar Gembira yang seharusnya menghidupkan justru bisa jadi memadamkan, karena tidak disampaikan dengan bahasa dan cara yang tepat.

Teologi atau “faith seeking understanding” sangat mendalam di konsep, dan bila kita mau berbicara dengan orang muda tentang ini, kita harus mencari bahasa-bahasa praktis modern orang muda sehingga pesan kebenaran kasih Tuhan ini bisa diterima dan bahkan dialami dengan begitu indahnya oleh mereka.

Sesekali waktu pada sebuah Misa, seorang Imam berkata “Selama masa Adven ini kita harus mempersiapkan diri agar bisa merasakan keselamatan yang mendalam”. Berulangkali ia menggunakan istilah “merasakan keselamatan yang mendalam” dan setiap kali pula saya bertanya dalam hati “Apa sih maksudnya merasakan keselamatan yang mendalam???”. Barangkali ada 15 kali ia menggunakan istilah itu, dan 15 kali saya bertanya terus dalam hati. Selama kotbah, kata-katanya memang sampai di pikiran saya, tapi tidak pernah menjangkau hati saya, karena sampai sekarang saya tidak tahu apa maksudnya. Penerapannya bagaimana? Praktisnya apa?

Mungkin maksudnya hati kita merasa damai – maka katakanlah hati merasakan damai. Atau mungkin maksudnya hati kita merasakan Yesus yang hadir – maka jelaskanlah bagaimana rasanya kalau Yesus itu hadir di hati. Atau jangan-jangan maksudnya keselamatan itu cuma perasaan doang? (Nah betul kan Kabar Gembira yang seharusnya bisa menghidupkan malah bisa menimbulkan salah pengertian!).

Kompetensi dalam berkomunikasi ini sangat penting, karena sederetan gelaryang panjang saja tidak cukup kalau tidak bisa mengkomunikasikanilmu/pesan yang indah itu dengan bahasa yang tepat. Seperti Dr.Mark di atas, sehebat-hebatnya ia dalam bidang AIDS, ia tidak tahu bagaimana menjelaskan AIDS ke anak kecil. Sehebat-hebatnya kita dalam “kebenaran Tuhan dan GerejaNya”, mungkin kita tetap perlu belajar banyak untuk bisa mengkomunikasikan Kabar Gembira ini ke orang muda di sekitar kita – setidaknya saya merasa saya perlu banyak belajar lagi.


Jadi siapa contoh orang yang punya kualifikasi untuk bicara dengan orang muda?

pope-kisses-a-pilgrim-1-small1Contoh yang paling tepat untuk kualifikasi ini pastinya adalah mendiang Paus Yohanes Paulus II – tidak ada yang bisa meragukan cintanya pada Tuhan (lihat wajahnya dan konsistensinya mempertahankan dan mewartakan kebenaran), tidak ada yang bisa mempertanyakan cintanya bagi orang muda (ia bukan sekedar bicara, tapi juga hadir di tengah2 orang muda, bahkan mengatakan bahwa orang muda adalah tumpuan harapannya bagi Gereja), dan kemampuan komunikasinya telah mengambil hati jutaan orang muda dari berbagai penjuru dunia untuk datang berkumpul merayakan iman dan mendengarkan ia bicara (sekalipun di usianya yang sudah tua!).

Saya pikir kita, khususnya saya, harus belajar banyak dari buah pikirannya, tulisan-tulisannya, dan ruang hatinya yang begitu besar buat Tuhan dan orang muda!

Untuk melayani orang muda, saya harus lebih banyak mendekatkan diri pada Sang Sumber Cinta, yaitu Hati Yesus sendiri, lewat waktu-waktu doa dan hening di hadapan Sakramen Mahakudus. Saya harus lebih banyak meluangkan waktu untuk berada di tengah-tengah orang muda serta mendengar apa yang menjadi kebutuhan hati mereka. Sejalan dengan itu, saya harus mengakui betapa kurangnya kemampuan komunikasi saya dengan orang muda. Kehidupan orang muda begitu dinamis dan cepat berkembang, baik budaya ataupun istilah bahasa sehari-harinya. Untuk itu, saya perlu terus memperbaiki diri dan mengembangkan kemampuan berkomunikasi, supaya saya bisa ambil bagian dalam Amanat Agung pewartaan iman. Saya menyadari ini bukan tugas yang mudah, untuk itu hati dan pikiran yang terbuka untuk mau bekerjasama dan berdialog dengan segenap pihak Gereja, baik dengan klerus maupun awam, harus selalu dikembangkan dan diwujudkan. Tidak ada satu orangpun yang bisa melakukan semuanya, tapi sebagai keluarga besar Gereja, kita bisa saling mendukung dan saling melengkapi, lalu kasih Tuhan yang memberkati dan menyempurnakannya.

(Kalau saya fokus melakukan hal-hal di atas, kapan saya kerja cari uangnya? Bukannya saya awam yang juga perlu bertanggungjawab mencari nafkah sehari-hari bagi keluarga? Seorang teman bergurau “Kamu udah ngga digaji, ngga diberikan pelatihan atau formation 10 tahun seperti Romo, ikut bantu pelayanan, eh malah kadang dicela-cela sama sesama orang Gereja, dan masih aja mau pelayanan di orang muda Katolik?” Biasanya saya cuma senyum aja. Kadang senyum sedih, kadang senyum sukacita karena boleh ikut dicela seperti Yesus. Tapi entah senyum yang manapun, saya tetap ngga pernah bisa membayangkan hidup tanpa  menjadi seorang umat yang melayani di Gereja Katolik. I love Jesus, I love the Catholic Church, and I love young people!)

Orang muda hari ini bukanlah Gereja hari esok. Orang muda hari ini adalah Gereja hari ini juga. Mari kita bicara dengan orang muda. Mari kita beritakan hidup yang penuh harapan dan sukacita kepada orang muda, karena Roh Pengharapan dan Roh Cinta yang Maha Penuh Kuasa pasti menyertai dan memampukan kita semua.

Mari kita sambut Musim Semi yang Baru bagi Gereja: Hari ini di Keuskupan kita masing-masing, dan Hari ini di Paroki kita masing-masing!

 

R.

 

(Mohon maaf, tulisan ini cuma corat coret pribadi, ungkapan kerinduan saya yang saya share bagi sesama orang muda. Isinya belum tentu benar karena banyak dipandang dari subyektifitas saya sendiri yang masih sangat jauh dari sempurna, sehingga perlu konfirmasi dari orang-orang yang lebih kompeten. Mohon maaf kalau ada yang tersinggung dengan tulisan ini, mudah-mudahan tidak ada, karena sebagian besar ini hanyalah refleksi pribadi dan kritisi untuk diri saya sendiri.)

(Tulisan ini dipersembahkan untuk my beloved late Pope John Paul II: the Lover of God, the Lover of the Youths, and the Great Communicator. How we need a father like you in The Church today. Always missing you.)

 

 

 

 

~ by riko ariefano on December 21, 2008.

2 Responses to “Punya kualifikasi bicara dengan orang muda?”

  1. Halo Mas Riko,

    Very nice reflection. Saya sendiri juga rindu sama Paus JPII. Tapi juga Paus Benediktus XVI ini membawa intelektualitas yang sangat besar ke dalam kepausan di gereja katolik ini sendiri. Kata beliau beberapa waktu yang lalu, kalo orang dibaptis untuk menjadi satu tubuh di dalam Kristus tuh ya butuh pastur/orang laen, demikianlah juga kita sendiri, kita butuh orang laen di dalam hidup kita, gak bisa idup sendiri. Iya, kita butuh satu sama laen, yang muda dengan semangatnya butuh yang tua yang diharapkan bisa membimbing dan memberikan wawasannya dan kebijaksanaannya. Kita emang butuh yang namanya penjangkauan ke anak anak muda, namun juga jangan sampai cuman memberikan makanan bayi terus, diajak buat anak mudanya untuk tumbuh dewasa pula. Semoga kesan pesan saya menguatkan sodara, jangan lelah bekerja di ladangnya Tuhan yah! =)

  2. Saya setuju bahwa Pope Benny ini juga sungguh luar biasa. Semoga Gereja ini selalu diberkati dengan para gembala yang penuh kasih dan kebijaksanaan.

    Yang muda2 ini memang perlu banyak belajar dari yang lebih senior dan berpengalaman, supaya menjadi dewasa dalam kasih dan kerendahan hati.

    Terimakasih banyak untuk response-nya yang meneguhkan.

    R.

Leave a Reply