Peristiwa Sukacita: Jogging with Mother Mary (5)
Bayangan di pikiran saya selanjutnya bikin hati saya bener-bener rusuh! Bayangkan kalau kita punya barang berharga yang sangat mahal – misalnya laptop dengan segala data-data pekerjaan dan dokumen pribadi – dan barang ini hilang! Atau waktu kita ke tempat parkir mencari mobil kita, ternyata mobilnya sudah ngga ada! Atau waktu mau get married, pas sebelum Misa, ternyata mempelai wanita hilang! Oh no! Disaster!
Jangan takut friends, ada yang lebih disaster lagi. Bunda Maria pasti ngerti gimana rasanya, sebab dia juga pernah kehilangan. Kali ini kehilangannya ngga tanggung-tanggung: Dia kehilangan Anak Allah yang Maha Tinggi, Juruselamat dan satu-satunya harapan sorga dan dunia! Dia kehilangan seorang Mesias yang sudah dinubuatkan selama ribuan tahun oleh para nabi. Dia kehilangan Yesus anaknya, dan bahkan sampai 3 hari!
(Saya sedang mencoba membayangkan seorang ibu dari Jakarta yang lagi pergi tour ziarah ke Sendangsono, lalu waktu lagi otw pulang, pas sudah sampai Jogya baru sadar bahwa anaknya yang baru umur 12 tahun ternyata tidak ada di rombongan. Kebayang gak sih rusuhnya ibu-ibu dan bapak-bapak yang panik karena bingung. “Coba telpon si pak Koster yang di paroki Promasan Sendangsono, siapa tau si Michael ketinggalan di situ”, “Pak Supir.. stop..stop… mau cek si Michael ada di bis belakang ngga?”, “Halo Ci Aling, si Michael ada di sana ngga, kok dia ngga ada di bis ike ya?” “Daddy, si Michael hilang, perlu lapor polisi ngga ya?”, “Coba kamu telpon atau SMS dia”, “Gak bisa Pap, gak ada sinyal, payah nih memang provider-nya”, “Huaaa…hua….Salam Maria penuh rahmat Tuhan sertamu…”, “Selamat sore Romo, mohon maaf, apakah anak saya Michael tertinggal di Gereja?”, “Ooo iya ini kami bersama frater-frater sedang diajarin teologi oleh si Michael di sini. Dia pinter lho!”, “What..???” )
Santo Josef dan Bunda Maria dengan hati yang besar dan tabah berjalan kembali menuju Bait Allah, dan di sana mereka melihat Yesus sedang berdiskusi dengan para ahli Kitab Suci. Ini pemandangan baru buat kedua orang tua yang sedang bingung itu.
But friends, I have good news for you. You can always find Jesus in the House of The Lord. Hari ini Dia hadir dalam rupa Roti Suci. Kita menyebutnya Blessed Sacrament, atau Sakramen Maha Kudus.
Setiap kali saya menghadapai challenging situation dalam hidup saya, setiap kali saya merasa perlu Tuhan, hati saya selalu rindu pada The Blessed Sacrament. Ada saat-saat dalam hidup kita yang mana rasanya Tuhan begitu jauh. Ada momen-momen tertentu di mana satu malam terasa lebih gelap daripada malam-malam sebelumnya – dan Tuhan seakan hanya berdiri di kejauhan, jauh di luar jangkauan hati kita. Atau bahkan ada masa-masa yang rasanya Tuhan tidak dapat ditemukan di manapun juga (inget kan waktu baru diputusin pacar…ehm…).
Pengalaman Bunda Maria mengundang kita untuk selalu kembali ke Bait Allah – because Jesus is always there, waiting for you and for me in the Blessed Sacrament. Sesungguhnya Dia ngga pernah ke mana-mana. Dia ngga pernah ninggalin kita sendirian. Dia berjanji untuk menyertai kita di segala keadaan hidup ini, bahkan sampai akhir jaman, dan Dia penuhi janjiNya dengan selalu hadir buat kita di gerejaNya.
The great grandeur of The Father’s majesty, the magnificent endless redemptive power of Christ Almighty, and the unending beauty of The Spirit of Love – semuanya hadir dan nampak dalam rupa Roti Suci yang sederhana dan begitu dekat dengan hidup kita, yaitu di paroki-paroki kita semua. Di sana, Dia menunggu kita untuk datang dan berbicara denganNya. Di atas altar, Dia menyatu dengan seorang Imam. Di balik mimbar, lewat seorang Imam Dia memberitakan hidup yang penuh sukacita dan pengharapan. Di dalam tabernakel yang sepi dan sunyi, Dia terus rindu untuk diundang masuk ke dalam tubuh kita saat Komuni Suci, dan bersatu dengan seluruh hati dan hidup kita.
This is very important: Kalau kita semua sering merindukan dan menyambut Tubuh Kristus dalam Ekaristi, Dia akan memperbarui hidup kita semua dan seluruh wajah Gereja menjadi baru!
Hati saya berdegup cepat. Bukan karena lari-lari kecil sore ini, tapi karena saya merasa begitu excited membayangkan Tuhan yang selalu hadir buat saya. Tanpa sadar, saya sudah jogging dengan kekuatan penuh di putaran ke 10 sore ini. Siapa bilang berdoa Rosario itu membosankan? Pertama: tubuh saya disegarkan oleh jogging, kedua: jiwa saya diperbarui oleh peristiwa-peristiwa sukacita Bunda Maria, dan ketiga: roh saya serasa diangkat tinggi-tinggi bersama cinta Yesus yang ngga ada habis-habisnya.
Hari ini, judulnya Jogging + Doa Rosario = Jatuh cinta pada Sakramen Maha Kudus.
(Hidup kita + penyertaan Bunda Maria = dekat sama Tuhan Yesus)
Si ibu yang suaranya memenuhi seluruh track jogging sudah duduk di samping sambil makan lontong sayur seabreg-abreg. Si opa yang latihan QiGong sudah ngga tau ada di mana. Dan Si Oom yang lagi belajar jalan sehabis stroke sudah menuju mobil dituntun istrinya yang selalu murah senyum – this is also the logic of love.
Bersama Bunda Maria, mari kita semua berziarah menuju Rumah Tuhan. Di sana ada Yesus yang menanti kita semua. Bersama Bunda Maria, mari kita ajak seluruh generasi orang muda hari ini, untuk menimba cinta , sukacita, dan pengharapan dari Sakramen Mahakudus, supaya kita semua diubah menjadi the preachers of Good News – bukan cuma lewat kata-kata, tapi justru lewat kesaksian hidup kita yang memberi inspirasi buat seluuuuuuuruh dunia!
Saya berjalan menuju parkiran, nyalain mobil, dan nyetir pulang dengan hati penuh sukacita Tuhan. Semoga saya bisa terus belajar setia mencintai Tuhan dan sesama.
Sekarang dan waktu kami mati.
Amin.

Hahaha.. Yg ini yg gua paling demen.. Heran, kok ga ada yg kasih komen. Ini kan climax dari cerita joggingnya.
5 5 nya very inspiring, tapi komennya numpang di yg terakhir ini aje hoho, soalnya paling kocak.
“Santo Josef dan Bunda Maria dengan hati yang besar dan tabah ..”
Pelajaran berharga buat ‘ike’ dari our beloved saints. =)
Thx ko!
Puji Tuhan.
Thank you udah mampir dan kasih komentar. Memang Bunda Maria & St.Josef paling asik…:-)
Sayang di Indo ini buku2/tulisan tentang St.Josef belum banyak – padahal Gereja bisa banyak sekali belajar dari Santo yang sangat rendah hati ini.
Gbu!