Peristiwa Sukacita: Jogging with Mother Mary (4)

Jadi pengikut Tuhan bukan berarti kita menjalani kehidupan yang serba beda dari A sampai Z. Waktu Jakarta banjir, saya pikir rumah saya bakal kering kerontang. Ternyata ngga tuh. Tetangga kanan banjir, tetangga kiri banjir, rumah saya pastinya gak mau ketinggalan dong.. ehm.  Maka batallah semua rencana saya selama beberapa hari. Tapi banjir ini juga memberkati saya dengan pengalaman rohani yang memperkaya iman saya, karena saya tau saya berjalan melewati air ngga sendirian, tapi bersama Nabi Nuh dan Nabi Musa! (Cerita saya soal banjir ada di http://vitaapostolica.wordpress.com/2008/04/04/banjir-jakarta-2007/).

Anyway, sore ini saya lanjut memacu jantung lebih cepat dan melewati seorang Opa yang lagi latihan QiGong di ujung taman. Di sebelahnya ada seorang ibu yang lagi menggendong bayinya. Pikiran saya lalu melayang ke bayi Yesus yang sedang digendong oleh Bunda Maria menuju ke Bait Allah. Santo Josef berjalan di depannya sambil membawa burung merpati untuk dipersembahkan bersama dengan bayi Yesus. Hati saya bertanya-tanya: Kenapa sih bayi Yesus perlu dipersembahkan ke bait Allah? Bukannya bait Allah adalah milikNya? Mau juga Yesus yang mempersembahkan bait Allah kepada BapaNya, tapi kenapa justru Yesus yang dipersembahkan? Kalau Dia Tuhan, bukannya Dia seharusnya menjalani kehidupan yang beda dari A sampai Z, karena… ya pastinya karena Dia Tuhan.

Ada sebuah istilah yang akhir-akhir ini sering muncul di benak saya: The logic of love. Banyak hal yang ngga bisa dimengerti oleh rasio kita, karena alasannya hanyalah karena cinta. This is the logic of love. Karena Yesus begitu mencintai kita, Ia mau sungguh-sungguh menyatu dengan kehidupan kita manusia.  Ia bersedia sungguh-sungguh menjalani hari-harinya sebagai manusia biasa – just like you and me, termasuk dipersembahkan di Bait Allah. Ia begitu mencintai kita sehingga Ia mau menyatu dengan pengalaman hidup kita sehari-hari. Kanak-kanak Yesus belajar jalan, belajar ngomong, belajar bilang “Papaaa…” dan bahkan dipersembahkan di bait yang sebetulnya adalah milikNya sendiri. Yesus mau make sure bahwa apapun keadaan yang seringkali kita harus terima dan alami, Dia juga mengalaminya. Kalau Yesus saja yang Tuhan bersedia merendahkan diriNya dan dipersembahkan di Bait Allah oleh Bunda Maria, maka kita semua juga diundang untuk memberikan diri kita ke pelukan dan gendongan Bunda Maria. Trust me, Mother Mary will also take us and offer us all in the Temple of God –just like Jesus.

Remember friends: Yesus begitu mencintai kita semua, sehingga Dia mau menyatu dengan hidup dan keadaan kita setiap hari. Dia tau gimana rasanya dicela, Dia tau gimana rasanya gak sabar menghadapi orang-orang tertentu di sekitarnya, Dia tau gimana rasanya dilukai oleh orang yang Dia cintai, Dia tau gimana rasanya kurang uang karena harga BBM yang naik terus, Dia tau gimana rasanya dikucilkan oleh teman-teman pelayanan sekalipun, dan Dia tau gimana rasanya terjebak macet hari Jumat di Jakarta, Dia tau… Dia tau.. pokoknya Dia tau semua yang kita alami.

He loves me so much. He wants to be one with me, in me, and for me. This is the logic of love. He still loves me and wants to be united with me, walaupun saya penuh kelemahan dan dosa.

… Santa Maria, Bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini…

~ by riko ariefano on June 23, 2008.

2 Responses to “Peristiwa Sukacita: Jogging with Mother Mary (4)”

  1. blognya bagus banget, buat aku semakin ingin meneladani teladannya bunda maria, dan yup Yesus tahu semua yang sedang kita alami,salam kenal dan GBU n ur family

  2. Puji Tuhan dan terima kasih banyak untuk kunjungannya ke blog sederhana ini. Semua yang baik dan bagus pasti karena kemurahan Tuhan semata-mata…

Leave a Reply