Peristiwa Sukacita: Jogging with Mother Mary (3)
Setelah 10 kali Salam Maria, saya mulai membayangkan Santo Josef dan Bunda Maria yang lagi berjalan mencari tempat penginapan. Gila aja, Bunda Maria sudah hamil tua, di kandungannya ada juruselamat dunia, tapi gak ada tempat untuk melahirkan. Coba deh bayangin – Juruselamat dunia dan Mesias yang dinantikan selama ribuan tahun, sedang mencari tempat untuk dilahirkan, tapi gak ketemu! Oh no, what a disaster! Gimana rasanya jadi Josef ya? Saya ngebayangin istri saya sedang hamil tua, tapi harus berjalan melarikan diri dari pembunuhan bayi masal, dan gak ketemu tempat untuk melahirkan. Lebih parahnya adalah: Saya dikasih tanggungjawab untuk menjaga dan membesarkan bayi ini – yang adalah putera Raja di atas segala Raja! Hmmm… rusuh, bener-bener rasanya hati ini rusuh. Gimana rasanya jadi Bunda Maria yang dipercaya untuk melahirkan Mesias, tapi cuma mendapat tempat berupa kandang hewan yang hina dan kotor…L Jujurnya saya ngga kebayang gimana perasaan mereka. Sedih? Happy? Ngerasa ngga layak? Hmm… Ngga kebayang.
Tapi Tuhan punya berita baik untuk kita semua. Dia tidak memilih rumah mewah untuk turun ke dunia ini. Dia tidak memilih rumah sakit taraf internasional untuk dilahirkan. Dia tidak memilih konglomerat untuk menjadi keluarganya di dunia ini.
Dia memilih orang-orang sederhana seperti Josef dan Maria untuk menjadi keluarganya. Dia memilih keadaan yang kacau balau dan penuh ketidakpastian untuk datang ke dunia ini. Dia memilih malam-malam yang gelap dan di tempat yang paling miskin untuk lahir dan hadir bagi kita semua – supaya kita semua selalu punya harapan bahwa di kegalauan dan keresahan hidup kita inilah Dia justru mau hadir. Kita tidak pernah sendirian di tengah-tengah luka dan air mata. Kita tidak pernah sendirian di tengah-tengah kemiskinan dan ketakutan. Kita tidak pernah sendirian di tengah-tengah ketidakberdayaan kita – sebab di tengah-tengah kegelapan ini semua, Yesus memilih untuk mau hadir dan tinggal bersama kita.
Friends, He is with us. He is with me. And He is with you.
Pikiran yang melayang-layang membuat jalan sore menjadi tidak terasa. Sudah 6 putaran saya lewati, dan setiap Salam Maria rasanya menjadi semakin berarti – because I know that my Mother is with me, and she always leads me to Jesus.
(Siapa bilang orang Karismatik gak menghormati Bunda Maria? Sejak saya terlibat di Pembaharuan Karismatik Katolik 17 tahun yang lalu, saya justru merasa semakin mencintai Bunda Maria. I don’t care what other people say, pokoknya she is indeed my beloved Mom!)
Tiba-tiba saja saya disegarkan oleh percikan air dari surga! What? Surga? Yes, di tengah-tengah hati saya yang sedang membayangkan Tuhan yang penuh kasih, tiba-tiba aja saya merasa ada siraman air sejuk dari atas. Waktu saya nengok, ternyata tukang siram taman yang salah arah semprot! Tapi puji Tuhan, lumayan ada air sejuk yang membasahi kaos saya yang memang sudah ngeplek-ngeplek bunyinya.
… dan terpujilah buah tubuhmu Yesus…

Leave a Reply