Gereja menderita Fibrodysplasia Ossificans Progressiva?
Hari Sabtu lalu beberapa close friends komunitas saya – Domus Cordis, dan saya sendiri lagi duduk di rumah nonton TV sambil ngobrol, dan di MetroTV ada ulasan tentang FOP disease – Fibriodysplasia Ossificans Progressiva. FOP ini adalah penyakit langka connective tissue di tubuh kita. Terjadinya mutasi pada mekanisme perbaikan tubuh kita menyebabkan fibous tissue (termasuk otot dan urat) rusak dan menjadi keras. Dalam banyak kasus, persendian tubuh kitapun bisa seakan “membeku” dan jadi keras dan kaku. Bahasa awamnya yang paling mudah: otot berubah jadi tulang.
Ngeri banget ngga sih? Bayangkan otot-otot tubuh kita berubah jadi tulang!
Dan yang lebih parah lagi ialah: pertumbuhan “tulang” ini tidak bisa disingkirkan lewat operasi karena tubuh akan memberikan reaksi perbaikan terhadap bagian yang dioperasi itu dengan cara menambah tulang lagi di bagian itu…(oh no!)
Referensi yang paling sering digunakan untuk kasus ini adalah Harry Eastlack (1933-1973). Harry mulai mengalami kasus ini waktu ia berusia 10 tahun, dan pada saat ia meninggal dunia tahun 1973, yaitu 6 hari sebelum ia berulang tahun ke40, hampir seluruh tubuhnya sudah mengeras seperti tulang, dan ia cuma bisa menggerakkan bibirnya saja.
Sebagai Gereja, kita semua adalah Tubuh Kristus. Masing-masing dari kita memiliki panggilan dan fungsi yang berbeda-beda. St.Paulus dalam suratnya ke umat di Korintus mengatakan bahwa kalau tubuh seluruhnya adalah mata, di manakah pendengaran? Dan kalau tubuh semuanya adalah telinga, di manakah penciuman? (1 Kor 12:17) Lalu Paulus melanjutkan “…Allah telah memberikan kepada anggota, masing-masing secara khusus, suatu tempat pada tubuh, seperti yang dikehendakiNya” (1 Kor 12:18).
Masing-masing dari kita punya keunikan di Tubuh Kristus. Ada yang dipanggil menjadi mata, ada yang dipanggil menjadi mulut, dan ada juga yang dipanggil menjadi kaki. Paulus bilang ada yang dipanggil sebagai rasul, ada yang dipanggil menjadi nabi, ada yang dipanggil untuk mengajar. Fungsi dari setiap panggilan inipun berbeda-beda. Ada yang disertai karunia mengadakan mujizat, ada yang menyembuhkan, ada juga yang memimpin (bdk. 1 Kor 12:28).
Dalam pelayanan, seringkali saya menemukan orang-orang muda yang ingin menjadi seperti Romo Romeo, atau jadi seperti Pewarta Petrus, atau Hamba Tuhan Hambali, dan sebagainya dan sebagainya. Boleh-boleh saja kita mendapatkan banyak inspirasi Roh Kudus dari mereka, tapi kita masing-masing punya panggilan sendiri-sendiri yang sangat unik. Setiap dari kita diciptakan unik dan berbeda, sehingga setiap dari kita punya karunia dan misi yang berbeda juga. Jangan sampai kita tergila-gila pada seseorang, sehingga kita ingin sekali menjadi sama persis seperti dia – dan akhirnya menghalangi rencana Tuhan yang indah buat hidup kita sendiri.
Saya pribadi sangat terinspirasi oleh kehidupan Santo Josef (suami Maria), Santo Josef (dari Cupertino, Italia), Santo Fransiskus (dari Asisi), Santo Antonius (dari Padua), Santa Theresia (dari Lisioux), Beata Teresia (dari Kalkuta), dan mendiang Paus Yohanes Paulus II. Paus Yohanes Paulus II secara khusus menjadi teladan saya akan figur seorang pemimpin yang penuh kasih dan kerendahan hati yang memberitakan kekuatan cinta serta anugerah kehidupan kepada bangsa-bangsa. Tapi ini tentu bukan berarti bahwa saya dipanggil untuk menjadi seorang Paus! (Hmm… we’ll see 20 years from now. We never know, right? He..he..). Kalau saya begitu mengagumi Santa Theresia (dari Lisioux), ini juga bukan berarti saya harus masuk biara Karmelit – tapi yang pasti adalah bahwa saya bisa belajar dari kualitas cintanya yang luar biasa untuk Tuhan, yang ia ungkapkan lewat perbuatan-perbuatan kecil setiap hari.
Anyway, my point is: Kita masing-masing dipanggil Tuhan untuk mengenali panggilanNya dalam hidup kita. Kita juga masing-masing dipanggil untuk mengenali karunia-karunia Roh Kudus yang Tuhan berikan dalam hidup kita. Panggilan dan karunia-karunia ini pasti sejalan, karena karunia diberikan untuk memperlengkapi kita menjalani panggilan hidup yang sudah Tuhan berikan.
Hanya di dalam kehendak dan rencanaNya inilah kita akan menjalani hidup yang paling penuh sukacita, dan paling memuliakan Tuhan. Hanya di dalam mengikuti panggilanNya inilah kita akan mengalami hidup yang paling berbuah limpah, baik dalam kehidupan pribadi di keluarga dan komunitas kita masing-masing, ataupun berbuah limpah bagi Kerajaan Allah di kebun anggur kita masing-masing. Hanya di dalam pemenuhan kerinduan Hati Allah sendiri inilah, kita akan mengalami pemenuhan hati dan hidup kita masing-masing.
Kalau panggilan kita adalah menjadi tangan, tapi kita paksakan untuk menjadi mata, hidup kita tidak akan mengalami kepenuhan sukacita yang Tuhan sediakan. Bahkan apabila panggilan kita menjadi otot, tapi kita mau menjadi tulang – komunitas kita bisa-bisa mengalami Fibrodysplasia Ossificans Progressiva!
(Think about it seriously, pals!)
So, jangan berhenti pada orang-orang yang Tuhan pakai untuk meng-inspirasi hidup kita. Tapi jadikan mereka sebagai sarana bagi kita untuk memandang Tuhan sendiri, dan bertanya langsung kepadaNya “Tuhan, Engkau memanggilku untuk menjadi apa?”
Proses pencarian panggilan tentu bukan masalah 1-2 hari, tapi lewat jalan kesabaran dan kesetiaan Roh Kudus pasti memimpin kita semakin mendekat kepadaNya, dan semakin mengenali kerinduan HatiNya bagi kita.
Kita punya Allah yang sungguh besar, dan anugerah kehidupan yang sungguh besar indahnya. Waktu kita berada di jalan panggilanNya, bersiaplah untuk mengalami besarNya Tuhan, dan besarnya hidup ini. Waktu kita masing-masing menanggapi panggilan Tuhan, dan sungguh masuk dalam rencanaNya yang indah, kita akan menjadi alat yang luar biasa powerful di tangan Tuhan.
Let’s do it, and let’s be prepared for a new springtime for the Church and the whole world!

Yes..I think Body of Christ (the Church) must really think about this…Hear what Holy Spirit tell the church.
We have Holy spirit become our Helper to do Jesus Word..
Come on Church, Move On!!