Faith vs. Science?

•August 7, 2009 • Leave a Comment

Priest Bible(Berikut ini adalah tulisan saya menanggapi sebuah diskusi di satu mailing list.)

Corat coret dikit ah…

 

Science/Ilmu Pengetahuan

Jaman dulu, suatu ilmu pengobatan/penyembuhan yang belum ditemukan bukti ilmiahnya sering disebut sebagai ’supernatural’. Tidak jarang tokoh2 penyembuhpun dipanggil dengan sebutan dukun. Namun dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, saat bukti2 ilmiah mulai tersedia, yang dulu disebut ’supernatural’ mulai dikenal dengan sebutan ‘pengetahuan ilmiah medis’. Yang dulunya disebut ’supernatural’ atau ‘magis’ atau bahkan ‘kekuatan roh gaib’, sekarang disebut ’science’ karena secara ilmiah ternyata dapat dibuktikan.

Pelajaran yang bisa kita petik dari pengalaman ini adalah: Jangan terlalu cepat menyebut suatu fenomena itu sebagai “kuasa gelap” atau ‘aliran sesat” hanya karena fenomena ini belum terbukti secara ilmiah (fisika ataupun kimia).

Misteri alam ini begitu luas dan pengetahuan manusia akan alam ini masih sangat sangat minim. Namun demikian perkembangan ilmu pengetahuan dewasa ini begitu cepatnya berkembang sehingga banyak hal yang tadinya kita pikir “alam roh” atau “kuasa gelap” atau “aliran sesat” itu ternyata adalah gejala alam yang bisa dibuktikan secara kimia ataupun fisika.

Contohnya aura. Dulu kalau kita bicara tentang aura manusia, banyak yang menanggapi dengan skeptis dan bahkan sinis. Tapi ilmu pengetahuan telah berhasil membuktikan bahwa aura ini adalah energi yang dipancarkan oleh manusia dan berbentuk gelombang elektromagnetik. Setiap gelombang ini punya karakter tertentu sehingga menghasilkan warna-warni tertentu juga – bahkan sekarang sudah bisa mem-foto aura! Setiap karakter gelombang ini juga bisa menjadi indikasi kesehatan seseorang, sehingga proses penyembuhan juga bisa dilakukan dengan pendekatan energi elektromagnetik tubuh manusia. Energi ini dalam pengobatan Cina sering disebut dengan istilah “Chi”, atau “Qi”, atau kemudian berkembang dengan istilah “Reiki”. Dalam bahasa lain pendekatan ini disebut “Pranic Healing” atau di Indonesia sering dikenal dengan istilah “Tenaga Prana”. Lalu apakah “Chi” atau “Qi” atau “Reiki” atau “Pranic Healing” ini pasti sesat? Jangan terlalu cepat membuat kesimpulan hanya karena pengetahuan kita terbatas, karena dunia ilmu pengobatan yang banyak dikembangkan di Eropa, China, dan Amerika telah banyak menghasilkan bukti-bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa semua ini adalah gejala biofisika yang sangat bisa dijelaskan secara ilmiah!

Lalu apakah ‘power of belief’ yang sering dibicarakan oleh Bo Sanchez dan pembicara2 motivasional ini adalah sesat dan termasuk aliran New Age? Lagi-lagi jangan terlalu gegabah membuat kesimpulan, karena hal ini bisa dijelaskan secara ilmiah oleh ilmu pengetahuan juga. Contohnya pendekatan hipnosis atau NLP (Neuro Linguistic Programming) yang bisa memasukkan informasi ke alam bawah sadar kita hanya dalam hitungan menit, dan bahkan terkadang detik. Di pusat-pusat hipnoterapi di Amerika (dan bahkan Indonesia), orang yang luka batin bisa mengalami pemulihan lewat session2 ini. Rentang waktunya dari 1 kali session sampai beberapa bulan untuk kasus-kasus berat. Orang bisa berhenti merokok hanya dalam hitungan hari sampai beberapa minggu. (Bahkan metode retret dan pujian penyembahan yang seringkali kita lakukan juga menggunakan beberapa prinsip hipnosis, tanpa kita sadari!)

Lalu bagaimana dengan “law of attraction” yang seringkali dikaitkan dengan ‘hukum tabur dan tuai’ dan bahkan ‘teologi kemakmuran’…? Lagi2 jangan terlalu cepat membuat kesimpulan kalau tidak melihat konteksnya dan tidak sungguh paham ilmunya. Prinsip menabur dan menuai sangat jelas diuraikan dalam Kitab Suci. Law of Attraction adalah juga satu fenomena yang secara praktis sering terjadi, walaupun secara ilmiah belum dibuktikan mekanisme prosesnya. Tapi sekali lagi, ini adalah sebuah fenomena yang sungguh nyata terjadi lewat kekuatan pikiran dan usaha yang terus menerus. Sejauh ini adalah sebuah fakta, maka fenomena ini terbuka pada berbagai kemungkinan hipotesa ilmiah.

Sedikit catatan tentang tulisan Bo Sanchez: Seperti halnya kita tidak bisa membuat kesimpulan tentang Kitab Suci hanya dengan mengambil sebuah perikop, demikian pula kita tidak bisa mengambil kesimpulan tentang Bo Sanchez hanya dengan membaca sebuah artikel tulisannya. Mari kita pandang ini dengan wawasan yang lebih luas lewat banyak buku dan tulisannya, dan temukan pesan apa yang sebetulnya mau disampaikan oleh Bo Sanchez! Lagi-lagi, jangan mengkotakan pandangan kita pada sebuah kesimpulan hanya lewat secuil informasi yang kita tahu. Perhatikan juga arti dari penggunaan istilah2 yang sering digunakan oleh Bo Sanchez, supaya jangan hanya karena interpretasi kita yang berbeda, maka seluruh pribadinya di-cap “cenderung New Age” atau “penganut paham teologi kemakmuran!”

Kalau pendekatan “Truly Rich”-nya Bo Sanchez ini telah banyak didukung oleh imam2 dan uskup2 di Filipina, pasti mereka telah melakukan riset yang memadai. Bahkan seorang romo yang baru saja bertemu dengan Bo Sanchez mendengar Bo Sanchez bercerita bahwa seminar2 “Truly Rich”-nya ini bertujuan salah satunya untuk “memerangi” “teologi kemakmuran” sehingga wawasan “truly rich” sungguh sesuai dengan prinsip kasih yang diajarkan oleh Gereja Katolik.

Catholic Faith/Iman Katolik

Ensiklik Fides Et Ratio (1998) oleh mendiang  Paus Yohanes Paulus II mengatakan bahwa Iman dan Ilmu Pengetahuan sama-sama berasal dari Allah, maka keduanya tidak mungkin bertentangan dan keduanya bersama-sama diciptakan untuk memuliakan Allah.

Katekismus Gereja Katolik artikel 142 dan 143 berkata demikian:

142 By his Revelation, “the invisible God, from the fullness of his love, addresses men as his friends, and moves among them, in order to invite and receive them into his own company.” The adequate response to this invitation is faith.

143 By faith, man completely submits his intellect and his will to God. With his whole being man gives his assent to God the revealer. Sacred Scripture calls this human response to God, the author of revelation, “the obedience of faith”.

Lebih lanjut lagi Katekismus Gereja Katolik artikel 159  juga berbicara tentang hubungan iman dan ilmu pengetahuan:

159 Faith and science: “Though faith is above reason, there can never be any real discrepancy between faith and reason. Since the same God who reveals mysteries and infuses faith has bestowed the light of reason on the human mind, God cannot deny himself, nor can truth ever contradict truth.” “Consequently, methodical research in all branches of knowledge, provided it is carried out in a truly scientific manner and does not override moral laws, can never conflict with the faith, because the things of the world and the things of faith derive from the same God. The humble and persevering investigator of the secrets of nature is being led, as it were, by the hand of God in spite of himself, for it is God, the conserver of all things, who made them what they are.”

Artinya iman dan ilmu pengetahuan sama2 diciptakan Allah sebagai kebenaran untuk memuliakan Allah sendiri. Sebagai umat Katolik kita belajar bertumbuh dengan berbagai sarana yang Tuhan ciptakan, misalnya ilmu pengetahuan, dan rahmat ilahi, khususnya iman.

Iman Katolik memanfaatkan segala yang Tuhan sediakan ini sebagai sarana untuk memuliakan Tuhan di dalam pribadi Bapa, Putera, dan Roh Kudus!

New Age

Saya kutip dari wikipedia (http://en.wikipedia.org/wiki/New_Age):

The New Age (also known as the New Age Movement, New Age spirituality, and Cosmic Humanism) is a decentralized Westernsocial and spiritual movement that seeks “Universal Truth” and the attainment of the highest individual human potential. It combines aspects of cosmology, astrology, esotericism, alternative medicine, music, collectivism, sustainability, and nature. New Age spirituality is characterized by an individual approach to spiritual practices and philosophies, while rejecting religious doctrine and dogma.

Setidaknya ada 2 hal yang ingin saya garisbawahi dari definisi di atas:

1. Universal Truth: Iman Katolik percaya bahwa Yesus adalah Jalan, Kebenaran, dan Hidup. Tapi “universal truth”-nya New Age ini bersumber dari berbagai paham dan budaya, serta bisa jadi sangat erat dengan relativisme yang sangat ditentang oleh Paus Benediktus XVI. Tujuannya pun bukan memuliakan Allah, tapi pencapaian tertinggi potensi manusia. Maka memang aliran ini pasti bertentangan dengan iman ke-Katolik-an kita.

2. Aliran ini menggabungkan aspek kosmologi, astrologi, musik, pengobatan alternatif, alam, dan sebagainya. Apakah ini berarti kosmologi itu pasti salah? Apakah ini berarti musik meditatif yang digunakan mereka itu pasti sesat (terkadang mereka memakai musik instrumental kristiani juga)? Apakah karena mereka memakai pengobatan alternatif, maka setiap penggunaan obat alternatif ini berarti termasuk aliran New Age? For your info, akupuntur dan pengobatan herbal Cina termasuk dalam pengobatan alternatif. Apakah kalau mereka memakai prinsip alam (misalnya fakta tentang energi elektromagnetik tubuh manusia, atau fenomena kekuatan pikiran/law of attraction), maka setiap penggunaan prinsip alam yang notabene adalah fakta ilmiah ini berarti tergabung dalam aliran New Age? Mari kita bedakan antara yang science, dan yang aliran New Age.

Aliran New Age memakai ilmu pengetahuan dan fenomena alam untuk membentuk “universal truth”nya demi meninggikan potensi manusia.

Catatan akhir

Fenomena alam adalah fakta yang terjadi di tengah-tengah kita. Fenomena ini ada yang telah dibuktikan mekanisme prosesnya lewat pendekatan ilmiah kimia ataupun fisika, tapi ada juga yang belum ditemukan teori terjadinya dan masih dalam proses penelitian. Tapi sudah ataupun belum, yang pasti fenomena ini adalah fakta, dan fakta bersifat netral (bukan berarti Katolik, dan bukan juga berarti New Age).

Aliran New Age mengajak orang menggunakan ilmu pengetahuan dan fenomena alam untuk membentuk “universal truth” yang meninggikan potensi manusia.

Iman Katolik mengundang orang menggunakan ilmu pengetahuan dan fenomena alam untuk semakin mengenal, mengasihi, dan melayani Allah dalam pribadi Bapa, Putera, dan Roh Kudus, lewat GerejaNya yang satu, kudus, katolik, dan apostolik.

Tapi ilmu pengetahuan dan fenomena alam selalu netral.

Artinya kita tidak bisa dengan cepatnya menyimpulkan “law of attraction” sebagai “aliran New Age” atau “teologi kemakmuran”, karena tergantung bagaimana fenomena “law of attraction” ini digunakan. Kalau untuk mengejar kekayaan pribadi sebagai satu2nya tanda berkat Allah, maka ini

bisa jadi teologi kemakmuran. Kalau untuk membesarkan potensi pribadi semata-mata, ini bisa jadi New Age. Tapi kalau untuk berbagi kasih dan persaudaraan dengan sesama, ini bisa jadi sangat sesuai dengan iman Katolik. Kenapa? Karena “law of attraction” adalah fenomena alam yang sifatnya netral. Jadi tergantung untuk apa ia digunakan.

Apakah “The Secret” adalah buku yang menyesatkan? Bagi sebagian orang bisa jadi sangat menyesatkan. Tapi bagi saya dan beberapa teman, buku ini sangat membantu mengembangkan iman saya akan kasih Allah yang sungguh besar. Setelah membaca buku ini, saya semakin kagum akan kebesaran Allah yang menciptakan alam semesta dengan segala fenomena dan mekanisme-nya, termasuk kebesaran Allah yang menciptakan manusia dengan kekuatan pikiran yang luar biasa. Apakah kekuatan pikiran ini berarti sesat? Bukan! Bagi yang familiar dengan ilmu biophysics (sekali lagi pure science), pikiran manusia memang terbukti mampu mengalirkan gelombang elektromagnetik sehingga dapat mempengaruhi keadaan sekitarnya. Apakah ini berarti manusia itu hebat? Pastinya. Kenapa? Karena kita diciptakan dengan gambar dan rupa Allah sendiri, maka pastinya hebat. Dan yang paling hebat siapa? Ya jelas Sang Pencipta manusia, yaitu Allah sendiri! Bagi saya, setelah membaca The Secret, hati saya penuh dengan pujian dan pengagungan akan kebesaran Allah kita. Tulisan Paus Yohanes Paulus II “Fides Et Ratio” menjadi sungguh hidup dan bermakna bagi saya – dan saya semakin bangga menjadi umat Katolik.

Namun demikian tentunya ini harus disikapi secara bijaksana. Apakah buku “The Secret” bisa menyesatkan? Tentu saja sangat bisa, apalagi bagi orang-orang yang memang kurang terbuka pada pengalaman kasih dan kuasa Allah. Tapi apakah selalu menyesatkan? Hmm..mungkin yang terbaik adalah penjelasan dari pihak-pihak yang paling berkompeten di bidang ajaran Gereja dan sekaligus well-knowledgable akan perkembangan ilmu pengetahuan, sehingga tidak asal membuat kesimpulan “ini salah” atau “itu sesat”.

Apakah mungkin fenomena alam ini di”tebengi” oleh kuasa gelap atau roh jahat? Ya mungkin saja. Apakah fenomena alam ini pasti mengandung kuasa gelap atau roh jahat? Saya heran dengan orang-orang yang berani bilang pasti…:-)

Mari kita tidak terlalu cepat menghakimi, supaya kita jangan mudah jatuh dalam perpecahan – tapi berjaga-jaga senantiasa di dalam Roh Kudus, sambil terus rendah hati dan tunduk pada GerejaNya.

Hmm..corat-coret pribadi kok jadi kepanjangan ya…:-)

(Tulisan ini adalah sharing pribadi, bukan untuk tujuan pengajaran atau pewartaan. Ajaran resmi pastinya harus berasal dari wewenang mengajar Gereja sendiri, yang di dalamnya kita tunduk dan taat)

 

Punya kualifikasi bicara dengan orang muda?

•December 21, 2008 • 2 Comments

jpii-jugaPada acara International AIDS Conference 2006 di Toronto, Vineeta (usia 6) dan Sevilla (usia 4) hadir menemani orang tua mereka untuk membuat film tentang konferensi itu. Mereka mewawancarai ahli AIDS terkenal, aktivis gay, distributor kondom, dan banyak tokoh-tokoh lainnya yang hadir.

Sekali waktu, Dr.Mark A.Wainberg – salah seorang pimpinan konferensi, ditanya oleh kedua anak ini “Bagaimana AIDS bisa masuk kedalam tubuh Anda? Kenapa orang-orang ingin berhubungan seks?” Dr.Mark  menghindar dengan tertawa gugup. “AIDS masuk kedalam tubuh dengan cara yang… yang cukup rumit untuk dijelaskan pada anak kecil,” katanya. Lalu ia melanjutkan “Dengan cara yang sama seperti hubungan ayah dan ibu… yang akhirnya menyebabkan kita bisa lahir di dunia. Kamu menanyakan pertanyaan yang bagus. Saya tidak tahu apakah saya berkualifikasi menjawab pertanyaan kamu.” (http://www.nytimes.com/2008/02/26/health/26aids.html?_r=1)

Dr. Mark A. Wainberg, O.C., O.Q., Ph.D adalah seorang ahli riset AIDS berusia 60an, dan menjabat sebagai Direktur McGill University AIDS Centre di Montreal Jewish General Hospital, serta Professor of Medicine and of Microbiology di McGill University (http://en.wikipedia.org/wiki/Mark_Wainberg). Ia sangat menguasai bidangnya, dan ia sangat kompeten untuk menjawab pertanyaan tadi. Namun sayangnya, ia tidak tahu bagaimana berkomunikasi dengan anak kecil, sehingga ilmu pengetahuannya menjadi kurang berguna bagi anak kecil tadi.

Ada banyak “anak kecil” dalam Gereja, yaitu orang-orang yang mungkin kurang mengerti akan Allah dan kasihNya – misalnya banyak orang muda. Ada banyak juga “Dr.Mark A Wainberg, O.C., O.Q., Ph.D” dalam Gereja, yaitu orang-orang yang ahli teologi, filasafat, eklesiologi, sakramentologi, kristologi, bibliologi, pneumatologi, dan sebagainya – misalnya para uskup, para imam, katekis, guru agama, para koordinator bidang pelayanan, dan pewarta awam. Namun pertanyaannya adalah: Apakah mereka (termasuk saya), berkualifikasi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan orang muda? Apakah mereka, atau kita, tahu bagaimana berkomunikasi dengan orang muda? Karena bila tidak, jangan-jangan ilmu pengetahuan ini juga menjadi kurang berguna.

Mau didengarkan oleh orang muda? Setidaknya dewasa ini ada 3 kualifikasi utama yang dibutuhkan seseorang untuk berbicara tentang Tuhan kepada orang muda:

1.    Love for God – Mencintai Tuhan

2.    Love for the Young – Mencintai orang muda

3.    Communication Skill – Kemampuan komunikasi

 

1.    Love for God

Orang muda dewasa ini sangat kritis. Kita tidak bisa berbicara tentang Tuhan serta kebenaran dan kasihNya yang begitu besar kalau kita sendiri tidak tinggal di dalam kasih dan kebenaran ini. St.Fransiskus dari Asisi pernah mengatakan “Beritakan Injil, kalau perlu dengan kata-kata”. Hari ini mungkin lebih dari sebelumnya, seruan ini bergema begitu lantang dan begitu relevannya bagi pewartaan kepada orang muda. Kita harus menghidupi apa yang kita wartakan. Bila tidak, orang muda akan melihat dalam diri kita, bahwa kita cuma pembicara dan bukan pelaku Firman. Kalau kita tidak menghayati dan menjalani hidup yang sesuai dengan kasih Allah dan kebenaranNya seperti yang diajarkan Gereja, maka percayalah, orang muda akan bisa melihat itu, dan mereka tidak akan peduli dengan apa yang kita wartakan. Mereka akan berkata “Ah dia bisanya cuma ngomong doang, tapi kelakuannya tetep aja ngga beda sama yang lain”. Dari pengalaman saya, kita tidak bisa bohong dengan orang muda. Kalau kita sungguh mengasihi Tuhan, kalau kita sungguh rindu hidup dalam kasih dan kebenaranNya, maka hal ini pasti terlihat lewat hidup kita sehari-hari – dan keyakinan iman inilah yang ingin dilihat oleh orang muda. Mereka mungkin tidak berkomentar waktu mendengarkan kita bicara, tapi satu hal yang pasti: action speaks louder than words!

Contoh yang saya paling suka dan menurut saya paling nyata adalah Bunda Maria. Bayangkan, hanya dengan kehadirannya saja Elizabeth bersuka cita, bahkan bayi dalam kandungannyapun melonjak kegirangan. Ia adalah pewarta terbesar sepanjang jaman!

Apakah saya begitu menyatu dengan kasih dan kebenaranNya sehingga kehadiran saya menjadi sukacita bagi sesama? Atau waktu orang muda mendengar nama saya, mereka justru jadi malas untuk terlibat dan hadir? Apakah saya sungguh mengasihi Allah sehingga sharing saya tentang Allah sungguh-sungguh hidup dan “menghidupkan” orang muda?

 

2.    Love for the young

Ada orang yang bicara tentang orang muda atau kepada orang muda karena sok peduli, ada juga yang karena malu kalau tidak ikut-ikutan Gereja memperhatikan orang muda, ada juga yang karena butuh aktualisasi diri di audience yang lebih muda, supaya dihormati dan dipandang penting. Apapun alasannya, Tuhan bisa bekerja lewat alasan itu, dan bahkan memurnikannya. Dan apapun alasannya, percayalah, orang muda akan bisa melihat alasan itu. Di sisi lain kalau seseorang bicara tentang orang muda dan kepada orang muda, karena ia sungguh-sungguh mencintai mereka, maka orang muda juga akan bisa melihat hal ini. Alasan apapun yang ada di dalam hati kita, pasti akan terungkap dan terlihat lewat apa yang kita lakukan, dan katakan. Satu hal yang perlu dicatat: Orang muda mencintai kejujuran dan ketulusan.

Cinta itu sabar, murah hati, dan rela menderita. Berapa banyak yang sabar, murah hati, dan rela menderita bagi orang-orang muda? Kebun anggur orang muda bukan kebun anggur yang mudah dilayani dan dikelola, karena isinya adalah hati-hati yang idealis namun banyak terluka dan banyak mencari arti serta tujuan hidup. Gejala negatif yang tampak di permukaan, seperti seks bebas, narkoba, indiferentisme, dan sebagainya, seringkali adalah buah dari apa yang mereka terima di rumah – tanpa mempersalahkan pihak manapun. Tapi yang menerima “cap negatif” adalah generasi orang muda yang sebetulnya adalah “korban” dari situasi rumah dan lingkungan yang ada. Ada pepatah tua yang mengatakan “Buah apel jatuh tidak jauh dari pohonnya”. Mudah-mudahan pepatah ini tidak 100% benar.

Mencintai berarti selalu mau yang terbaik bagi orang yang kita cintai. Yang terbaik tidak harus berarti apa yang kita mau, dan yang terbaik tidak harus memaksakan apa yang menurut kita baik. Berapa banyak orang bilang peduli akan orang muda, tapi memaksakan orang muda harus ikut pendapatnya, karena kalau tidak, orang muda dicap sok tahu dan pemberontak?

Mencintai berarti hadir dan mendengarkan. Ada banyak orang yang di atas panggung atau di pertemuan para pemimpin mengungkapkan kata-kata indah mendukung orang muda, tapi hanya sedikit yang mau ada di tengah-tengah mereka dan mendengarkan seruan hati mereka. Mendengarkan berarti mencari seruan hati terdalam dan tetes air mata yang telah menggunung di balik kata-kata canda mereka, yang mungkin menurut saya tidak berguna atau mungkin “mengganggu” karena tidak cocok dengan gaya senda gurau saya.

Mencintai berarti mau mempercayai dan bahkan memberi ruang bagi orang yang kita cintai untuk berbuat salah, karena cinta selalu membangun dan memaafkan. Beberapa waktu yang lalu topik “yang muda yang memimpin” banyak mewarnai media, apalagi seputar perayaan 80 tahun Sumpah Pemuda. Barrack Obama pun konon terpilih salah satunya karena ia dianggap mewakili generasi yang lebih muda, dan memiliki harapan untuk menciptakan perbedaan. Hampir semua berbicara positif tentang ide ini. Tapi berbicara dengan orang muda tidak bisa berhenti di ide-ide saja. Ide positif tentu adalah satu hal baik, tapi orang muda perlu melihat ide-ide ini diwujudkan. Make things happen! Beberapa kali saya bicara sharing dengan orang-orang muda, dan sambil bercanda dan tertawa mereka berkata “Kalau mau buat konsep dan keputusan, biasanya kita ngga diajak – apalagi kalo menentukan jatah alokasi dana. Giliran disuruh-suruh bantu acara, baru kita dihubungin untuk kerja di lapangan…ha..ha.. Tapi ngga apa-apa lah, udah biasa…

Puji Tuhan, akhir-akhir ini Gereja banyak sekali memberi ruang bagi orang muda untuk berkarya, sehingga mudah-mudahan senda gurau seperti itu mulai berkurang.

Tapi sekali lagi, cinta yang kuat bagi orang muda pasti terlihat oleh mereka, dan ini memberi kredibilitas yang besar bagi seseorang untuk berbicara dengan orang muda. Tanpa kasih dan kehadiran di tengah-tengah mereka, biasanya mereka akan bilang “Siapa sih ini orang? Ngga pernah kelihatan, eh tiba-tiba ngomong panjang lebar dan kita disuruh dengerin dan nurutin dia… zzz…zzz…zzz… Kita cabut aja yuk…

 

3.    Communication Skill

Ben de sana şunu söyleyeyim, sen Petrus’sun ve ben topluluğumu bu kayanın[] üzerine kuracağım. Ölüler diyarının kapıları ona karşı direnemeyecek. 

Apakah ada yang mengerti bahasa di atas? Mohon maaf, saya juga tidak mengerti karena itu bahasa Turki. Kalau saya bicara dengan orang Turki, mereka pasti mengerti artinya. Tapi waktu saya bicara dengan orang Indonesia, saya harus berbicara dengan bahasa Indonesia, supaya pendengar mengerti maksudnya.

Tulisan di atas adalah Injil Matius 16:18, yaitu “Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.”

Nah, sekarang kita semua mengerti maksudnya.

Begitu juga bila berkomunikasi dengan orang muda awam, kita harus menggunakan bahasa yang dimengerti oleh orang muda awam – bukan orang muda rohaniwan yang sedang belajar teologi di Sekolah Tinggi Filsafat misalnya. Penggunaan bahasa yang salah menjadikan seluruh konten bahasan/pembicaraan menjadi tidak relevan, membosankan, dan bahkan bisa menyebabkan salah pengertian! Akibatnya, Kabar Gembira yang seharusnya menghidupkan justru bisa jadi memadamkan, karena tidak disampaikan dengan bahasa dan cara yang tepat.

Teologi atau “faith seeking understanding” sangat mendalam di konsep, dan bila kita mau berbicara dengan orang muda tentang ini, kita harus mencari bahasa-bahasa praktis modern orang muda sehingga pesan kebenaran kasih Tuhan ini bisa diterima dan bahkan dialami dengan begitu indahnya oleh mereka.

Sesekali waktu pada sebuah Misa, seorang Imam berkata “Selama masa Adven ini kita harus mempersiapkan diri agar bisa merasakan keselamatan yang mendalam”. Berulangkali ia menggunakan istilah “merasakan keselamatan yang mendalam” dan setiap kali pula saya bertanya dalam hati “Apa sih maksudnya merasakan keselamatan yang mendalam???”. Barangkali ada 15 kali ia menggunakan istilah itu, dan 15 kali saya bertanya terus dalam hati. Selama kotbah, kata-katanya memang sampai di pikiran saya, tapi tidak pernah menjangkau hati saya, karena sampai sekarang saya tidak tahu apa maksudnya. Penerapannya bagaimana? Praktisnya apa?

Mungkin maksudnya hati kita merasa damai – maka katakanlah hati merasakan damai. Atau mungkin maksudnya hati kita merasakan Yesus yang hadir – maka jelaskanlah bagaimana rasanya kalau Yesus itu hadir di hati. Atau jangan-jangan maksudnya keselamatan itu cuma perasaan doang? (Nah betul kan Kabar Gembira yang seharusnya bisa menghidupkan malah bisa menimbulkan salah pengertian!).

Kompetensi dalam berkomunikasi ini sangat penting, karena sederetan gelaryang panjang saja tidak cukup kalau tidak bisa mengkomunikasikanilmu/pesan yang indah itu dengan bahasa yang tepat. Seperti Dr.Mark di atas, sehebat-hebatnya ia dalam bidang AIDS, ia tidak tahu bagaimana menjelaskan AIDS ke anak kecil. Sehebat-hebatnya kita dalam “kebenaran Tuhan dan GerejaNya”, mungkin kita tetap perlu belajar banyak untuk bisa mengkomunikasikan Kabar Gembira ini ke orang muda di sekitar kita – setidaknya saya merasa saya perlu banyak belajar lagi.


Jadi siapa contoh orang yang punya kualifikasi untuk bicara dengan orang muda?

pope-kisses-a-pilgrim-1-small1Contoh yang paling tepat untuk kualifikasi ini pastinya adalah mendiang Paus Yohanes Paulus II – tidak ada yang bisa meragukan cintanya pada Tuhan (lihat wajahnya dan konsistensinya mempertahankan dan mewartakan kebenaran), tidak ada yang bisa mempertanyakan cintanya bagi orang muda (ia bukan sekedar bicara, tapi juga hadir di tengah2 orang muda, bahkan mengatakan bahwa orang muda adalah tumpuan harapannya bagi Gereja), dan kemampuan komunikasinya telah mengambil hati jutaan orang muda dari berbagai penjuru dunia untuk datang berkumpul merayakan iman dan mendengarkan ia bicara (sekalipun di usianya yang sudah tua!).

Saya pikir kita, khususnya saya, harus belajar banyak dari buah pikirannya, tulisan-tulisannya, dan ruang hatinya yang begitu besar buat Tuhan dan orang muda!

Untuk melayani orang muda, saya harus lebih banyak mendekatkan diri pada Sang Sumber Cinta, yaitu Hati Yesus sendiri, lewat waktu-waktu doa dan hening di hadapan Sakramen Mahakudus. Saya harus lebih banyak meluangkan waktu untuk berada di tengah-tengah orang muda serta mendengar apa yang menjadi kebutuhan hati mereka. Sejalan dengan itu, saya harus mengakui betapa kurangnya kemampuan komunikasi saya dengan orang muda. Kehidupan orang muda begitu dinamis dan cepat berkembang, baik budaya ataupun istilah bahasa sehari-harinya. Untuk itu, saya perlu terus memperbaiki diri dan mengembangkan kemampuan berkomunikasi, supaya saya bisa ambil bagian dalam Amanat Agung pewartaan iman. Saya menyadari ini bukan tugas yang mudah, untuk itu hati dan pikiran yang terbuka untuk mau bekerjasama dan berdialog dengan segenap pihak Gereja, baik dengan klerus maupun awam, harus selalu dikembangkan dan diwujudkan. Tidak ada satu orangpun yang bisa melakukan semuanya, tapi sebagai keluarga besar Gereja, kita bisa saling mendukung dan saling melengkapi, lalu kasih Tuhan yang memberkati dan menyempurnakannya.

(Kalau saya fokus melakukan hal-hal di atas, kapan saya kerja cari uangnya? Bukannya saya awam yang juga perlu bertanggungjawab mencari nafkah sehari-hari bagi keluarga? Seorang teman bergurau “Kamu udah ngga digaji, ngga diberikan pelatihan atau formation 10 tahun seperti Romo, ikut bantu pelayanan, eh malah kadang dicela-cela sama sesama orang Gereja, dan masih aja mau pelayanan di orang muda Katolik?” Biasanya saya cuma senyum aja. Kadang senyum sedih, kadang senyum sukacita karena boleh ikut dicela seperti Yesus. Tapi entah senyum yang manapun, saya tetap ngga pernah bisa membayangkan hidup tanpa  menjadi seorang umat yang melayani di Gereja Katolik. I love Jesus, I love the Catholic Church, and I love young people!)

Orang muda hari ini bukanlah Gereja hari esok. Orang muda hari ini adalah Gereja hari ini juga. Mari kita bicara dengan orang muda. Mari kita beritakan hidup yang penuh harapan dan sukacita kepada orang muda, karena Roh Pengharapan dan Roh Cinta yang Maha Penuh Kuasa pasti menyertai dan memampukan kita semua.

Mari kita sambut Musim Semi yang Baru bagi Gereja: Hari ini di Keuskupan kita masing-masing, dan Hari ini di Paroki kita masing-masing!

 

R.

 

(Mohon maaf, tulisan ini cuma corat coret pribadi, ungkapan kerinduan saya yang saya share bagi sesama orang muda. Isinya belum tentu benar karena banyak dipandang dari subyektifitas saya sendiri yang masih sangat jauh dari sempurna, sehingga perlu konfirmasi dari orang-orang yang lebih kompeten. Mohon maaf kalau ada yang tersinggung dengan tulisan ini, mudah-mudahan tidak ada, karena sebagian besar ini hanyalah refleksi pribadi dan kritisi untuk diri saya sendiri.)

(Tulisan ini dipersembahkan untuk my beloved late Pope John Paul II: the Lover of God, the Lover of the Youths, and the Great Communicator. How we need a father like you in The Church today. Always missing you.)

 

 

 

 

Peristiwa Sukacita: Jogging with Mother Mary (1)

•June 23, 2008 • Leave a Comment

Hari ini saya berencana doa Rosario sambil jogging sore.

Sambil mengikat tali sepatu, saya mulai melihat-lihat apakah sore ini jogging track ramai atau sepi. Seperti biasa ada beberapa wajah yang sudah beberapa kali saya jumpai – seorang Oom yang sepertinya sedang proses pemulihan setelah stroke sedang belajar berjalan dibantu istrinya, seorang ibu yang sedang jalan santai, dan anak-anak kecil yang sedang bermain kejar-kejaran – yang ramenya minta ampun.

Setelah hampir dua putaran, saya mulai mendaraskan doa Aku Percaya dan lanjut dengan Bapa Kami. Kata seorang santo, Bunda Maria adalah jalan pintas menuju Yesus. Hmmm…pikiran saya mulai melayang ke masa waktu Bunda Maria menerima kabar gembira dari malaikat Gabriel. Saya membayangkan saat itu mungkin Bunda Maria sedang di dapur dan tiba-tiba munculah malaikat di dekat jendela “Salam hai engkau yang dikaruniai…” Bunda Maria berlutut. Detik-detik selanjutnya, seluruh penghuni sorga berdiam diri. Sorga yang biasanya penuh puji-pujian, kali ini diam seribu bahasa. Waktu seperti berhenti, dan keheningan menguasai seluruh penjuru langit. Seluruh sabda Allah yang maha kekal, semua janji yang sudah dinubuatkan selama ribuan tahun, dan segala harapan masa depan sorga dan dunia bertumpu pada kata-kata yang akan keluar dari seorang gadis kecil di desa Nazaret. Semua menanti-nantikan apa kira-kira yang akan diucapkan oleh gadis ini. Bagaimana kalau ia menolak? Bagaimana kalau ia pura-pura tidak mendengar? Bagaimana kalau…?

“Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanMu…”

Saya terus berlari kecil melewati beberapa orang yang sedang senam di pinggir taman, sambil mendengarkan gemuruh sorga di hati saya. Seakan-akan begitu jelas terdengar. Ada ribuan malaikat yang bersorak-sorai sambil berseru “Kerajaan Allah sudah dekat. Lihatlah – gadis Maria memilih untuk taat pada rencana Bapa. Keselamatan sudah datang di tengah-tengah kita semua. Ada harapan bagi sorga dan dunia…” Tanpa terasa ada senyum kecil di bibir saya. Hati saya penuh sukacita. Inilah ketaatan yang mengubah wajah dunia. Tuhan tidak memilih orang yang hebat untuk mengubah kebinasaan menjadi kekekalan. Catat yang satu ini: Dia memilih orang yang lemah seperti kita semua! Dan Dia tidak memilih orang yang sudah berumur karena pengalamannya, tapi Dia memilih seorang anak muda perempuan. Ketaatan Maria bukan saja pengharapan bagi semua ibu-ibu sedunia, tapi juga tanda bagi semua orang muda, bahwa Tuhan percaya pada kita semua!

(hmm maksudnya saya juga termasuk anak muda gitu… ehm)

Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu

Demikian hati saya terus melambungkan doa demi doa, dan kaki ini terus menapaki jogging track yang mulai penuh dengan pejalan kaki sore. 

Peristiwa Sukacita: Jogging with Mother Mary (2)

•June 23, 2008 • Leave a Comment

Di ujung taman, ada seorang ibu setengah baya yang sedang tertawa dengan begitu lantangnya. Rasaya seluruh jogging track penuh dengan suara tuh ibu doang…J

Sukacita ibu itu mengingatkan saya pada Elizabeth yang begitu penuh sukacita waktu Bunda Maria datang mengunjunginya. Kehadiran Maria begitu membuat Elizabeth bersukacita, sampai-sampai bayi dalam kandungannyapun melonjak kegirangan – padahal Maria belum ngomong apa-apa.

Tiba-tiba hati saya jadi on-fire sendiri. “Yang kayak gini inilah seharusnya para pewarta kita!” pikir saya. Bunda Maria menjadi seorang pewarta sukacita hanya dengan kehadiran dirinya. Tanpa kata-kata apapun, kehadirannya sudah menjadi kabar baik bagi Elizabeth dan bayi Yohanes. If we want to preach and share the Good News, then we have to be a good news to others first. Gimana kita bisa menjadi pewarta kabar baik, kalau kehadiran kita tidak disukai orang lain. Santo Fransiskus Asisi pernah bilang “Preach the Good News, with words if necessary”. Artinya pewartaan pertama-tama bukanlah dengan kata-kata, tapi dengan sikap hidup kita masing-masing. Kalau kita menjadi orang yang penuh sukacita Tuhan, kehadiran kita akan membawa sukacita bagi sesama. Now the issue is: Apakah kehadiran kita menjadi kabar baik bagi orang lain? Bagaimana kita bisa share the Good News about Jesus, kalau kehadiran kita saja sudah tidak dikehendaki orang lain, karena sikap kita yang tidak mencerminkan Kabar Baik itu sendiri… Bunda Maria adalah seorang pewarta sejati karena Ia membawa Yesus dalam dirinya, dan tanpa kata-katapun Ia sudah membagikan sukacita Tuhan. Pernah denger pepatah action speaks louder than words? Mother Mary is the loudest preacher and she is the most genuine preacher of the Good News, because first of all, she preaches with her life! Haleluya!

Artinya semua orang bisa menjadi seorang pewarta sejati seperti Maria, karena jadi pewarta bukan berarti harus berdiri di mimbar untuk mewartakan sukacita Tuhan. Yup, everybody can be a preacher of the joy of Christ: everybody like you and me.

Learn from Mother Mary!

Kaos saya mulai basah kuyup. T-Shirt yang agak longgar mulai nempel di badan karena basah. Sambil melirik ke bawah, saya merasa bangga..he..he.. Sekarang udah ngga jaman six pack guys. Sekarang jamannya One Big Family Pack!

Dan sayapun lanjut, … terpujilah engkau di antara wanita…

(Banyak orang bilang bahwa kalau kita memuji Maria, kita sedang menggantikan Yesus dengan Maria. Siapa bilang? Kalau kita memuji sebuah lukisan, sebetulnya yang sedang kita puji adalah pelukis yang begitu hebat karena bisa menciptakan lukisan yang sungguh indah. Gitu juga dengan memuji Maria. Waktu kita memuji Maria, kita sedang memuji kebesaran Yesus yang dengan hebatNya mencipta dan bekerja dalam diri seorang perempuan muda – bejana yang rapuh namun dipenuhi kuasa Tuhan untuk melahirkan keselamatan dan pengharapan bagi sorga dan dunia!)

 

Peristiwa Sukacita: Jogging with Mother Mary (3)

•June 23, 2008 • Leave a Comment

Setelah 10 kali Salam Maria, saya mulai membayangkan Santo Josef dan Bunda Maria yang lagi berjalan mencari tempat penginapan. Gila aja, Bunda Maria sudah hamil tua, di kandungannya ada juruselamat dunia, tapi gak ada tempat untuk melahirkan. Coba deh bayangin – Juruselamat dunia dan Mesias yang dinantikan selama ribuan tahun, sedang mencari tempat untuk dilahirkan, tapi gak ketemu! Oh no, what a disaster! Gimana rasanya jadi Josef ya? Saya ngebayangin istri saya sedang hamil tua, tapi harus berjalan melarikan diri dari pembunuhan bayi masal, dan gak ketemu tempat untuk melahirkan. Lebih parahnya adalah: Saya dikasih tanggungjawab untuk menjaga dan membesarkan bayi ini – yang adalah putera Raja di atas segala Raja! Hmmm… rusuh, bener-bener rasanya hati ini rusuh. Gimana rasanya jadi Bunda Maria yang dipercaya untuk melahirkan Mesias, tapi cuma mendapat tempat berupa kandang hewan yang hina dan kotor…L Jujurnya saya ngga kebayang gimana perasaan mereka. Sedih? Happy? Ngerasa ngga layak? Hmm… Ngga kebayang.

Tapi Tuhan punya berita baik untuk kita semua. Dia tidak memilih rumah mewah untuk turun ke dunia ini. Dia tidak memilih rumah sakit taraf internasional untuk dilahirkan. Dia tidak memilih konglomerat untuk menjadi keluarganya di dunia ini.

Dia memilih orang-orang sederhana seperti Josef dan Maria untuk menjadi keluarganya. Dia memilih keadaan yang kacau balau dan penuh ketidakpastian untuk datang ke dunia ini. Dia memilih malam-malam yang gelap dan di tempat yang paling miskin untuk lahir dan hadir bagi kita semua – supaya kita semua selalu punya harapan bahwa di kegalauan dan keresahan hidup kita inilah Dia justru mau hadir. Kita tidak pernah sendirian di tengah-tengah luka dan air mata. Kita tidak pernah sendirian di tengah-tengah kemiskinan dan ketakutan. Kita tidak pernah sendirian di tengah-tengah ketidakberdayaan kita – sebab di tengah-tengah kegelapan ini semua, Yesus memilih untuk mau hadir dan tinggal bersama kita.

Friends, He is with us. He is with me. And He is with you.

Pikiran yang melayang-layang membuat jalan sore menjadi tidak terasa. Sudah 6 putaran saya lewati, dan setiap Salam Maria rasanya menjadi semakin berarti – because I know that my Mother is with me, and she always leads me to Jesus.

(Siapa bilang orang Karismatik gak menghormati Bunda Maria? Sejak saya terlibat di Pembaharuan Karismatik Katolik 17 tahun yang lalu, saya justru merasa semakin mencintai Bunda Maria. I don’t care what other people say, pokoknya she is indeed my beloved Mom!)

Tiba-tiba saja saya disegarkan oleh percikan air dari surga!  What? Surga? Yes, di tengah-tengah hati saya yang sedang membayangkan Tuhan yang penuh kasih, tiba-tiba aja saya merasa ada siraman air sejuk dari atas. Waktu saya nengok, ternyata tukang siram taman yang salah arah semprot! Tapi puji Tuhan, lumayan ada air sejuk yang membasahi kaos saya yang memang sudah ngeplek-ngeplek bunyinya.

… dan terpujilah buah tubuhmu Yesus…

Peristiwa Sukacita: Jogging with Mother Mary (4)

•June 23, 2008 • 2 Comments

Jadi pengikut Tuhan bukan berarti kita menjalani kehidupan yang serba beda dari A sampai Z. Waktu Jakarta banjir, saya pikir rumah saya bakal kering kerontang. Ternyata ngga tuh. Tetangga kanan banjir, tetangga kiri banjir, rumah saya pastinya gak mau ketinggalan dong.. ehm.  Maka batallah semua rencana saya selama beberapa hari. Tapi banjir ini juga memberkati saya dengan pengalaman rohani yang memperkaya iman saya, karena saya tau saya berjalan melewati air ngga sendirian, tapi bersama Nabi Nuh dan Nabi Musa! (Cerita saya soal banjir ada di http://vitaapostolica.wordpress.com/2008/04/04/banjir-jakarta-2007/).

Anyway, sore ini saya lanjut memacu jantung lebih cepat dan melewati seorang Opa yang lagi latihan QiGong di ujung taman. Di sebelahnya ada seorang ibu yang lagi menggendong bayinya. Pikiran saya lalu melayang ke bayi Yesus yang sedang digendong oleh Bunda Maria menuju ke Bait Allah. Santo Josef berjalan di depannya sambil membawa burung merpati untuk dipersembahkan bersama dengan bayi Yesus. Hati saya bertanya-tanya: Kenapa sih bayi Yesus perlu dipersembahkan ke bait Allah? Bukannya bait Allah adalah milikNya? Mau juga Yesus yang mempersembahkan bait Allah kepada BapaNya, tapi kenapa justru Yesus yang dipersembahkan? Kalau Dia Tuhan, bukannya Dia seharusnya menjalani kehidupan yang beda dari A sampai Z, karena… ya pastinya karena Dia Tuhan.

Ada sebuah istilah yang akhir-akhir ini sering muncul di benak saya: The logic of love. Banyak hal yang ngga bisa dimengerti oleh rasio kita, karena alasannya hanyalah karena cinta. This is the logic of love. Karena Yesus begitu mencintai kita, Ia mau sungguh-sungguh menyatu dengan kehidupan kita manusia.  Ia bersedia sungguh-sungguh menjalani hari-harinya sebagai manusia biasa – just like you and me, termasuk dipersembahkan di Bait Allah. Ia begitu mencintai kita sehingga Ia mau menyatu dengan pengalaman hidup kita sehari-hari. Kanak-kanak Yesus belajar jalan, belajar ngomong, belajar bilang “Papaaa…” dan bahkan dipersembahkan di bait yang sebetulnya adalah milikNya sendiri. Yesus mau make sure bahwa apapun keadaan yang seringkali kita harus terima dan alami, Dia juga mengalaminya. Kalau Yesus saja yang Tuhan bersedia merendahkan diriNya dan dipersembahkan di Bait Allah oleh Bunda Maria, maka kita semua juga diundang untuk memberikan diri kita ke pelukan dan gendongan Bunda Maria. Trust me, Mother Mary will also take us and offer us all in the Temple of God –just like Jesus.

Remember friends: Yesus begitu mencintai kita semua, sehingga Dia mau menyatu dengan hidup dan keadaan kita setiap hari. Dia tau gimana rasanya dicela, Dia tau gimana rasanya gak sabar menghadapi orang-orang tertentu di sekitarnya, Dia tau gimana rasanya dilukai oleh orang yang Dia cintai, Dia tau gimana rasanya kurang uang karena harga BBM yang naik terus, Dia tau gimana rasanya dikucilkan oleh teman-teman pelayanan sekalipun, dan Dia tau gimana rasanya terjebak macet hari Jumat di Jakarta, Dia tau… Dia tau.. pokoknya Dia tau semua yang kita alami.

He loves me so much. He wants to be one with me, in me, and for me. This is the logic of love. He still loves me and wants to be united with me, walaupun saya penuh kelemahan dan dosa.

… Santa Maria, Bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini…

Peristiwa Sukacita: Jogging with Mother Mary (5)

•June 23, 2008 • 2 Comments

Bayangan di pikiran saya selanjutnya bikin hati saya bener-bener rusuh! Bayangkan kalau kita punya barang berharga yang sangat mahal – misalnya laptop dengan segala data-data pekerjaan dan dokumen pribadi – dan barang ini hilang! Atau waktu kita ke tempat parkir mencari mobil kita, ternyata mobilnya sudah ngga ada! Atau waktu mau get married, pas sebelum Misa, ternyata mempelai wanita hilang! Oh no! Disaster!

Jangan takut friends, ada yang lebih disaster lagi. Bunda Maria pasti ngerti gimana rasanya, sebab dia juga pernah kehilangan. Kali ini kehilangannya ngga tanggung-tanggung: Dia kehilangan Anak Allah yang Maha Tinggi, Juruselamat dan satu-satunya harapan sorga dan dunia! Dia kehilangan seorang Mesias yang sudah dinubuatkan selama ribuan tahun oleh para nabi. Dia kehilangan Yesus anaknya, dan bahkan sampai 3 hari!

(Saya sedang mencoba membayangkan seorang ibu dari Jakarta yang lagi pergi tour ziarah ke Sendangsono, lalu waktu lagi otw pulang, pas sudah sampai Jogya baru sadar bahwa anaknya yang baru umur 12 tahun ternyata tidak ada di rombongan. Kebayang gak sih rusuhnya ibu-ibu dan bapak-bapak yang panik karena bingung. “Coba telpon si pak Koster yang di paroki Promasan Sendangsono, siapa tau si Michael ketinggalan di situ”, “Pak Supir.. stop..stop… mau cek si Michael ada di bis belakang ngga?”, “Halo Ci Aling, si Michael ada di sana ngga, kok dia ngga ada di bis ike ya?” “Daddy, si Michael hilang, perlu lapor polisi ngga ya?”, “Coba kamu telpon atau SMS dia”, “Gak bisa Pap, gak ada sinyal, payah nih memang provider-nya”, “Huaaa…hua….Salam Maria penuh rahmat Tuhan sertamu…”, “Selamat sore Romo, mohon maaf, apakah anak saya Michael tertinggal di Gereja?”, “Ooo iya ini kami bersama frater-frater sedang diajarin teologi oleh si Michael di sini. Dia pinter lho!”, “What..???” )

Santo Josef dan Bunda Maria dengan hati yang besar dan tabah berjalan kembali menuju Bait Allah, dan di sana mereka melihat Yesus sedang berdiskusi dengan para ahli Kitab Suci. Ini pemandangan baru buat kedua orang tua yang sedang bingung itu.

But friends, I have good news for you. You can always find Jesus in the House of The Lord. Hari ini Dia hadir dalam rupa Roti Suci. Kita menyebutnya Blessed Sacrament, atau Sakramen Maha Kudus.

Setiap kali saya menghadapai challenging situation dalam hidup saya, setiap kali saya merasa perlu Tuhan, hati saya selalu rindu pada The Blessed Sacrament. Ada saat-saat dalam hidup  kita yang mana rasanya Tuhan begitu jauh. Ada momen-momen tertentu di mana satu malam terasa lebih gelap daripada malam-malam sebelumnya   dan Tuhan seakan hanya berdiri di kejauhan, jauh di luar jangkauan hati kita. Atau bahkan ada masa-masa yang rasanya Tuhan tidak dapat ditemukan di manapun juga (inget kan waktu baru diputusin pacar…ehm…).

Pengalaman Bunda Maria mengundang kita untuk selalu kembali ke Bait Allah – because Jesus is always there, waiting for you and for me in the Blessed Sacrament. Sesungguhnya Dia ngga pernah ke mana-mana. Dia ngga pernah ninggalin kita sendirian. Dia berjanji untuk menyertai kita di segala keadaan hidup ini, bahkan sampai akhir jaman, dan Dia penuhi janjiNya dengan selalu hadir buat kita di gerejaNya.

The great grandeur of The Father’s majesty, the magnificent endless redemptive power of Christ Almighty, and the unending beauty of The Spirit of Love – semuanya hadir dan nampak dalam rupa Roti Suci yang sederhana dan begitu dekat dengan hidup kita, yaitu di paroki-paroki kita semua. Di sana, Dia menunggu kita untuk datang dan berbicara denganNya. Di atas altar, Dia menyatu dengan seorang Imam. Di balik mimbar, lewat seorang Imam Dia memberitakan hidup yang penuh sukacita dan pengharapan. Di dalam tabernakel yang sepi dan sunyi, Dia terus rindu untuk diundang masuk ke dalam tubuh kita saat Komuni Suci, dan bersatu dengan seluruh hati dan hidup kita.

This is very important: Kalau kita semua sering merindukan dan menyambut Tubuh Kristus dalam Ekaristi, Dia akan memperbarui hidup kita semua dan seluruh wajah Gereja menjadi baru!

Hati saya berdegup cepat. Bukan karena lari-lari kecil sore ini, tapi karena saya merasa begitu excited membayangkan Tuhan yang selalu hadir buat saya. Tanpa sadar, saya sudah jogging dengan kekuatan penuh di putaran ke 10 sore ini. Siapa bilang berdoa Rosario itu membosankan? Pertama: tubuh saya disegarkan oleh jogging, kedua: jiwa saya diperbarui oleh peristiwa-peristiwa sukacita Bunda Maria, dan ketiga: roh saya serasa diangkat tinggi-tinggi bersama cinta Yesus yang ngga ada habis-habisnya.

Hari ini, judulnya Jogging + Doa Rosario = Jatuh cinta pada Sakramen Maha Kudus.

(Hidup kita + penyertaan Bunda Maria = dekat sama Tuhan Yesus)

Si ibu yang suaranya memenuhi seluruh track jogging sudah duduk di samping sambil makan lontong sayur seabreg-abreg. Si opa yang latihan QiGong sudah ngga tau ada di mana. Dan Si Oom yang lagi belajar jalan sehabis stroke sudah menuju mobil dituntun istrinya yang selalu murah senyum – this is also the logic of love.

Bersama Bunda Maria, mari kita semua berziarah menuju Rumah Tuhan. Di sana ada Yesus yang menanti kita semua. Bersama Bunda Maria, mari kita ajak seluruh generasi orang muda hari ini, untuk menimba cinta , sukacita, dan pengharapan dari Sakramen Mahakudus, supaya kita semua diubah menjadi the preachers of Good News – bukan cuma lewat kata-kata, tapi justru lewat kesaksian hidup kita yang memberi inspirasi buat seluuuuuuuruh dunia!

Saya berjalan menuju parkiran, nyalain mobil, dan nyetir pulang dengan hati penuh sukacita Tuhan. Semoga saya bisa terus belajar setia mencintai Tuhan dan sesama.

Sekarang dan waktu kami mati.

Amin.

World Youth Day 2008

•June 16, 2008 • Leave a Comment

Dare to be holy?

•May 29, 2008 • 1 Comment

Jadi orang muda di dunia modern ini ngga mudah, karena ada banyak tantangan yang mewarnai hidup kita. Dunia media sekuler mem”bombardir” kita setiap hari dengan pesan-pesan yang seringkali berlawanan dengan nilai-nilai kasih. Banyak orang muda yang terjepit antara imannya dan profesi/tugas sehari-hari yang “harus” mereka lakukan. Tidak jarang hati nurani-pun menjadi tumpul karena “keterpaksaan” ini.

Padahal Tuhan Yesus begitu mencintai kita hingga mati di kayu salib, supaya kita menerima kasihNya sebanyak-banyaknya, sehingga kasih ini mengubahkan hidup kita menjadi semakin menyerupai Yesus sendiri – yang adalah kudus. Yesus memanggil kita untuk hidup kudus seperti Dia sendiri.

Tapi seruan ini sepertinya telah menjadi “tumpul” karena dikaburkan oleh dunia sekitar kita. Pesan “Yesus mati di kayu salib buat kita”pun sudah menjadi terlalu “biasa” sehingga seakan kehilangan kekuatannya untuk menggerakkan hati kita. (Hmm.. bayangkan, kematian Tuhan-pun sudah kehilangan kekuatannya. Apa bener?) Bahkan, kalau ada orang yang mau hidup suci, bukannya didukung, tapi malah dicela dan dianggap “sok suci”. Sedihnya, kecenderungan ini bukan cuma terjadi di dunia sekuler, tapi juga di dunia ke-Katolik-an dan dunia pelayanan kita. Atau kalau kita bilang  mau belajar hidup benar, kita malah dibilang sombong. Menghadapi kenyataan ini, akhirnya kitapun mundur teratur dan tidak berani share tentang Yesus atau tidak berani memilih apa yang menyenangkan hatiNya.

Para kudus Gereja/santo-santa sudah memberi teladan hidup mereka ke kita semua, bahwa cinta Tuhan selalu sanggup untuk mengubah kita menjadi kudus. Kekudusan ngga pernah buah dari kebaikan kita semata, karena kita ngga pernah sanggup untuk menjadi suci. Kekudusan adalah kekuatan cinta Tuhan yang mengubahkan hidup kita setiap hari sehingga makin lama hidup kita makin seperti Yesus sendiri. Pastinya ini menyangkut pilihan-pilihan yang kita buat setiap hari, dari hal-hal besar sampai kepada perbuatan-perbuatan kecil yang hanya terlihat oleh Tuhan sendiri – misalnya buang sampah pada tempatnya, atau tersenyum ke orang yang paling kita benci. Justru hidup kita lebih banyak diisi oleh keputusan-keputusan kecil setiap hari yang seringkali tidak kita sadari, tapi akumulasi pilihan-pilihan inilah yang membawa kita kepada jalan kekudusan.

St.Theresa dari Lisioux dari kecil sudah bercita-cita untuk menjadi seorang santa, dan ia banyak dibilang sombong karena pilihan ini. Waktu St.Antonius dari Padua mau bergabung dengan konggregasi Fransiskan karena ter-inspirasi oleh para Fransiskan yang dibunuh di Marocco, ia juga banyak disindir oleh rekan-rekannya karena dianggap sok mau jadi martir. Bahkan St.Dominik Savio dibunuh teman-temannya pada usia muda karena ia dianggap sok suci. (Baca deh kisah hidup mereka. Gara-gara baca tentang kehidupan santo-santa, St.Ignatius dari Loyola bertobat dan menyerahkan seluruh hidupnya buat Tuhan Yesus in a very beautiful and radical way!)

Mendiang Pope John Paul II selalu berada dekat di hati saya. Di tengah-tengah dunia yang seringkali menawarkan keresahan dan ketakutan, beliau dengan beraninya menyerukan Don’t be afraid to be holy! kepada segenap lapisan Gereja, dan khususnya bagi orang muda.

Pada pertemuan World Youth Day ke-4 di Compostela (1989), ia berseru kepada orang muda sedunia:

Do not be afraid to be saints! This is the liberty with which Christ has set us free…

Pada pertemuan international ke-7 CFCCCF di Roma (2001), ia sekali lagi berseru:

The Church and the world need saints! And all the baptized without exception are called to be saints!

Let your communities, therefore, be more and more “genuine schools of prayer, where the meeting with Christ is expressed not just in imploring help but also in thanksgiving, praise, adoration, contemplation, listening and ardent devotion, until the heart truly “falls in love”. For this is what the saints are: people who have fallen in love with Christ. And this is why the Charismatic Renewal has been such a gift to the Church: it has led a host of men and women, young and old, into this experience of the love which is stronger than death.

Saya hanyalah sebuah suara di tengah-tengah dunia yang hiruk pikuk ini, tapi saya rindu banget untuk memenuhi Gereja dengan generasi yang dengan penuh kesadaran memilih untuk hidup kudus. Seruan John Paul II “Don’t be afraid to be holy” harus bergema di dalam setiap hati orang muda Katolik. Menerima cinta Tuhan sebanyak-banyaknya harus menjadi life-style kita semua, supaya cinta ini menguatkan kita untuk terus menerus memilih Tuhan dalam keseharian kita. Saya mau mengajak semua orang muda untuk tergila-gila mencintai Tuhan Yesus. Seriously! Semakin kita mencintai Yesus, semakin pula kita rindu untuk menyenangkan HatiNya lewat pilihan-pilihan yang kita buat sehari-hari, sehingga seperti kata Paulus “bukan lagi aku yang hidup, tapi Kristus yang hidup di dalam aku…”. 

Kepada semua orang muda Katolik saya mau berseru dengan lantang: Mari berikan hidupmu untuk seutuhnya dipenuhi oleh cinta Tuhan. Mari biarkan Cinta ini memenuhi, menyembuhkan, memulihkan, mengubahkan, dan memampukan hidup kita untuk jadi seperti Yesus sendiri. Mari belajar dari Bunda Maria dan para kudus tentang jalan kerendahan hati dan cinta yang menyempurnakan hidup kita. Jangan pernah takut memikul salib seperti Yesus, sebab hidup kita akan memperbaharui wajah Gereja. Don’t be satisfied with just being Catholics, but be holy Catholics. Be like Jesus, and inspire the world with His love!

Kepada semua Romo muda saya mau berseru, dan dengan lantang juga: Gereja perlu imam-imam muda yang hidup kudus dan memancarkan kekudusan Yesus. Ini bukan prioritas 2 atau 3. Ini adalah yang pertama dan terutama dalam panggilan imamat-mu. We need holy priests to inspire the world with Jesus!

Do you believe that His love is stronger than your weaknesses?

Dare to be holy?

Waktu orang-orang muda Katolik dan para Romo muda bersatu hati, merendahkan diri, dan menyerahkan hidupnya untuk dibentuk jadi kudus seperti Yesus sendiri – Gereja akan bercahaya dengan begitu semaraknya. Bunga-bunga kasih dan kerendahan hati akan bermekaran. Tunas-tunas kedamaian dan kesejahteraan akan tumbuh di mana-mana. Kebun anggur menghasilkan buah limpah, dan embun pagi membuka jalan bagi matahari yang terbit dengan terangnya. TerangNya membawa kehangatan di mana-mana.

Can you feel the warmth already now?

Selamat datang musim semi yang baru bagi Gereja dan dunia. The new springtime is here.

 

Tentang artikel Pembaharuan Karismatik Katolik

•May 15, 2008 • 6 Comments

 

Ini tulisan saya menanggapi maraknya pertanyaan dan artikel seputar Pambaharuan Karismatik Katolik di sebuah Mailing List yang saya ikuti.

 

 

Dear all,

 

Terimakasih untuk sharing artikel tentang karismatik Katolik yang saya terima di milist ini beberapa hari yang lalu.

 

Seperti yang saya pernah utarakan di milist ini, ada banyak sekali artikel/ tulisan-tulisan tentang Pembaharuan Karismatik Katolik di internet, baik yang mencela ataupun yang memuji.

 

Hal yang sama juga berlaku untuk para imam. Ada ratusan atau bahkan ribuan tulisan di internet yang mencela para imam Katolik. Lalu apakah ini berarti sakramen Imamat adalah sesat? Kalau saya baca tulisan-tulisan yang berasal dari pengalaman-pengalaman pribadi orang, ada banyak yang percaya (bahkan mewartakan ke segala penjuru dunia) bahwa Sakramen Imamat dan bahkan semua imam Katolik adalah sesat.

 

Tapi sebagai umat Katolik yang setiap hari dipanggil untuk belajar mencintai Yesus dan GerejaNya, saya selalu punya pilihan untuk men”sortir” tulisan-tulisan mana yang cuma pendapat subyektif, dan tulisan-tulisan mana yang adalah resmi pandangan Gereja Katolik.

 

Tulisan-tulisan pribadi seringkali berangkat dari sepenggal pengalaman pribadinya saja, yang dibagikan kepada sesama sehingga orang lain bertambah wawasannya. Tidak jarang tulisan ini berakar dari pengalaman pahit bersama obyek tulisannya – misalnya imam Katolik, atau Pembaharuan Karismatik Katolik. Atau bisa juga budaya hidupnya selama ini kurang selaras dengan gaya yang ditampilkan oleh obyek tulisannya – sehingga berdasarkan pengalaman pribadinya, atau berdasarkan pengertian pribadinya tentang ajaran Katolik, obyek tulisannya itu sesat.

 

Mengerti akan kelemahan dan sempitnya wawasan saya, maka saya memilih untuk tidak terlalu cepat membuat kesimpulan akan fenomena yang terjadi di Gereja.

 

Bagaimana saya bisa membuat kesimpulan tentang Pembaharuan Karismatik Katolik berdasarkan beberapa kejadian/informasi yang saya alami/terima dalam beberapa tahun saja, sementara Pembaharuan Karismatik Katolik telah dikembangkan sejak akhir1960-an dan saat ini melibatkan sekitar 120juta umat Katolik dan 148ribu Persekutuan Doa di seluruh dunia? (data diambil dari http://www.iccrs.org/CCR%20worldwide.htm)

 

Bukankah pengalaman pribadi saya terlalu sempit untuk dijadikan dasar kesimpulan umum akan gerakan ini?

 

Saya kira kalau kita mau berargumen yang baik demi membangun Gereja, kita harus mengambil data/informasi dari sumber-sumber yang credible dan trustworthy.

 

Waktu fenomena “karismatik Katolik” yang dipercaya pertama kali terjadi di Duquesne University, Vatikan tidak langsung menerima kejadian ini sebagai karya Roh Kudus. Bertahun-tahun diadakan penyelidikan dan pengkajian akan praktek dan buah-buah dari fenomena ini, yang menyangkut aspek teologis, pastoral, dsb. Leon Joseph Cardinal Suenens yang ditugaskan untuk memimpin proses ini akhirnya menuangkan hasil penyelidikannya ke dalam 6 dokumen yang dikenal dengan nama The Malines Documents. Pada waktu itu, Fr.Joseph Ratzinger (sekarang Pope Benedict XVI) menjadi salah satu Theological Consultants dalam menyusun dokumen yang pertama, yaitu Theological and Pastoral Orientations on The Catholic Charismatic Renewal.

 

Hari ini, International Catholic Charismatic Renewal Services (ICCRS) adalah badan resmi pelayanan pembaharuan karismatik Katolik internasional yang berkedudukan di Roma. Setelah melewati penyelidikan bertahun-tahun akan fenomena gerakan ini di berbagai belahan dunia, Misi dan Statuta dari badan inipun diakui oleh Vatikan.

 

Hari ini, saya memilih untuk percaya pada data dan informasi yang credible dan trustworthy, yaitu data dan informasi yang disediakan secara resmi oleh Gereja Katolik. Saya berterimakasih untuk tulisan-tulisan pribadi yang menambah wawasan saya, tapi saya memuji Tuhan untuk tulisan-tulisan resmi Gereja Katolik yang memperkaya iman saya.

 

Hari ini, saya mengundang kita semua, untuk memilih sumber tulisan yang dapat dipercaya karena didukung resmi oleh Gereja. Jangan biarkan diri kita diombang-ambingkan oleh pendapat-pendapat pribadi orang, tapi mari kita memantapkan iman dan pandangan hidup kita, sesuai dengan apa yang Tuhan ungkapkan lewat GerejaNya.

 

 

in HIS love,

riko.

 

This year marks the 20th anniversary of the Charismatic Renewal in the Catholic Church. The vigour and fruitfulness of the Renewal certainly attest to the powerful presence of the Holy Spirit at work in the Church in these years after the Second Vatican Council. Of course, the Spirit has guided the Church in every age, producing a great variety of gifts among the faithful. Because of the Spirit, the church preserves a continual youthful vitality, and the Charismatic Renewal is an eloquent manifestation of this vitality today, a bold statement of what “the Spirit is saying to the churches” (Rev. 2:7) as we approach the close of the second millennium.

 

(Address of Pope John Paul II at the Sixth International Leaders’ conference, Rome, 15 May 1987)