(Berikut ini adalah tulisan saya menanggapi sebuah diskusi di satu mailing list.)
Corat coret dikit ah…
Science/Ilmu Pengetahuan
Jaman dulu, suatu ilmu pengobatan/penyembuhan yang belum ditemukan bukti ilmiahnya sering disebut sebagai ’supernatural’. Tidak jarang tokoh2 penyembuhpun dipanggil dengan sebutan dukun. Namun dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, saat bukti2 ilmiah mulai tersedia, yang dulu disebut ’supernatural’ mulai dikenal dengan sebutan ‘pengetahuan ilmiah medis’. Yang dulunya disebut ’supernatural’ atau ‘magis’ atau bahkan ‘kekuatan roh gaib’, sekarang disebut ’science’ karena secara ilmiah ternyata dapat dibuktikan.
Pelajaran yang bisa kita petik dari pengalaman ini adalah: Jangan terlalu cepat menyebut suatu fenomena itu sebagai “kuasa gelap” atau ‘aliran sesat” hanya karena fenomena ini belum terbukti secara ilmiah (fisika ataupun kimia).
Misteri alam ini begitu luas dan pengetahuan manusia akan alam ini masih sangat sangat minim. Namun demikian perkembangan ilmu pengetahuan dewasa ini begitu cepatnya berkembang sehingga banyak hal yang tadinya kita pikir “alam roh” atau “kuasa gelap” atau “aliran sesat” itu ternyata adalah gejala alam yang bisa dibuktikan secara kimia ataupun fisika.
Contohnya aura. Dulu kalau kita bicara tentang aura manusia, banyak yang menanggapi dengan skeptis dan bahkan sinis. Tapi ilmu pengetahuan telah berhasil membuktikan bahwa aura ini adalah energi yang dipancarkan oleh manusia dan berbentuk gelombang elektromagnetik. Setiap gelombang ini punya karakter tertentu sehingga menghasilkan warna-warni tertentu juga – bahkan sekarang sudah bisa mem-foto aura! Setiap karakter gelombang ini juga bisa menjadi indikasi kesehatan seseorang, sehingga proses penyembuhan juga bisa dilakukan dengan pendekatan energi elektromagnetik tubuh manusia. Energi ini dalam pengobatan Cina sering disebut dengan istilah “Chi”, atau “Qi”, atau kemudian berkembang dengan istilah “Reiki”. Dalam bahasa lain pendekatan ini disebut “Pranic Healing” atau di Indonesia sering dikenal dengan istilah “Tenaga Prana”. Lalu apakah “Chi” atau “Qi” atau “Reiki” atau “Pranic Healing” ini pasti sesat? Jangan terlalu cepat membuat kesimpulan hanya karena pengetahuan kita terbatas, karena dunia ilmu pengobatan yang banyak dikembangkan di Eropa, China, dan Amerika telah banyak menghasilkan bukti-bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa semua ini adalah gejala biofisika yang sangat bisa dijelaskan secara ilmiah!
Lalu apakah ‘power of belief’ yang sering dibicarakan oleh Bo Sanchez dan pembicara2 motivasional ini adalah sesat dan termasuk aliran New Age? Lagi-lagi jangan terlalu gegabah membuat kesimpulan, karena hal ini bisa dijelaskan secara ilmiah oleh ilmu pengetahuan juga. Contohnya pendekatan hipnosis atau NLP (Neuro Linguistic Programming) yang bisa memasukkan informasi ke alam bawah sadar kita hanya dalam hitungan menit, dan bahkan terkadang detik. Di pusat-pusat hipnoterapi di Amerika (dan bahkan Indonesia), orang yang luka batin bisa mengalami pemulihan lewat session2 ini. Rentang waktunya dari 1 kali session sampai beberapa bulan untuk kasus-kasus berat. Orang bisa berhenti merokok hanya dalam hitungan hari sampai beberapa minggu. (Bahkan metode retret dan pujian penyembahan yang seringkali kita lakukan juga menggunakan beberapa prinsip hipnosis, tanpa kita sadari!)
Lalu bagaimana dengan “law of attraction” yang seringkali dikaitkan dengan ‘hukum tabur dan tuai’ dan bahkan ‘teologi kemakmuran’…? Lagi2 jangan terlalu cepat membuat kesimpulan kalau tidak melihat konteksnya dan tidak sungguh paham ilmunya. Prinsip menabur dan menuai sangat jelas diuraikan dalam Kitab Suci. Law of Attraction adalah juga satu fenomena yang secara praktis sering terjadi, walaupun secara ilmiah belum dibuktikan mekanisme prosesnya. Tapi sekali lagi, ini adalah sebuah fenomena yang sungguh nyata terjadi lewat kekuatan pikiran dan usaha yang terus menerus. Sejauh ini adalah sebuah fakta, maka fenomena ini terbuka pada berbagai kemungkinan hipotesa ilmiah.
Sedikit catatan tentang tulisan Bo Sanchez: Seperti halnya kita tidak bisa membuat kesimpulan tentang Kitab Suci hanya dengan mengambil sebuah perikop, demikian pula kita tidak bisa mengambil kesimpulan tentang Bo Sanchez hanya dengan membaca sebuah artikel tulisannya. Mari kita pandang ini dengan wawasan yang lebih luas lewat banyak buku dan tulisannya, dan temukan pesan apa yang sebetulnya mau disampaikan oleh Bo Sanchez! Lagi-lagi, jangan mengkotakan pandangan kita pada sebuah kesimpulan hanya lewat secuil informasi yang kita tahu. Perhatikan juga arti dari penggunaan istilah2 yang sering digunakan oleh Bo Sanchez, supaya jangan hanya karena interpretasi kita yang berbeda, maka seluruh pribadinya di-cap “cenderung New Age” atau “penganut paham teologi kemakmuran!”
Kalau pendekatan “Truly Rich”-nya Bo Sanchez ini telah banyak didukung oleh imam2 dan uskup2 di Filipina, pasti mereka telah melakukan riset yang memadai. Bahkan seorang romo yang baru saja bertemu dengan Bo Sanchez mendengar Bo Sanchez bercerita bahwa seminar2 “Truly Rich”-nya ini bertujuan salah satunya untuk “memerangi” “teologi kemakmuran” sehingga wawasan “truly rich” sungguh sesuai dengan prinsip kasih yang diajarkan oleh Gereja Katolik.
Catholic Faith/Iman Katolik
Ensiklik Fides Et Ratio (1998) oleh mendiang Paus Yohanes Paulus II mengatakan bahwa Iman dan Ilmu Pengetahuan sama-sama berasal dari Allah, maka keduanya tidak mungkin bertentangan dan keduanya bersama-sama diciptakan untuk memuliakan Allah.
Katekismus Gereja Katolik artikel 142 dan 143 berkata demikian:
142 By his Revelation, “the invisible God, from the fullness of his love, addresses men as his friends, and moves among them, in order to invite and receive them into his own company.” The adequate response to this invitation is faith.
143 By faith, man completely submits his intellect and his will to God. With his whole being man gives his assent to God the revealer. Sacred Scripture calls this human response to God, the author of revelation, “the obedience of faith”.
Lebih lanjut lagi Katekismus Gereja Katolik artikel 159 juga berbicara tentang hubungan iman dan ilmu pengetahuan:
159 Faith and science: “Though faith is above reason, there can never be any real discrepancy between faith and reason. Since the same God who reveals mysteries and infuses faith has bestowed the light of reason on the human mind, God cannot deny himself, nor can truth ever contradict truth.” “Consequently, methodical research in all branches of knowledge, provided it is carried out in a truly scientific manner and does not override moral laws, can never conflict with the faith, because the things of the world and the things of faith derive from the same God. The humble and persevering investigator of the secrets of nature is being led, as it were, by the hand of God in spite of himself, for it is God, the conserver of all things, who made them what they are.”
Artinya iman dan ilmu pengetahuan sama2 diciptakan Allah sebagai kebenaran untuk memuliakan Allah sendiri. Sebagai umat Katolik kita belajar bertumbuh dengan berbagai sarana yang Tuhan ciptakan, misalnya ilmu pengetahuan, dan rahmat ilahi, khususnya iman.
Iman Katolik memanfaatkan segala yang Tuhan sediakan ini sebagai sarana untuk memuliakan Tuhan di dalam pribadi Bapa, Putera, dan Roh Kudus!
New Age
Saya kutip dari wikipedia (http://en.wikipedia.org/wiki/New_Age):
The New Age (also known as the New Age Movement, New Age spirituality, and Cosmic Humanism) is a decentralized Westernsocial and spiritual movement that seeks “Universal Truth” and the attainment of the highest individual human potential. It combines aspects of cosmology, astrology, esotericism, alternative medicine, music, collectivism, sustainability, and nature. New Age spirituality is characterized by an individual approach to spiritual practices and philosophies, while rejecting religious doctrine and dogma.
Setidaknya ada 2 hal yang ingin saya garisbawahi dari definisi di atas:
1. Universal Truth: Iman Katolik percaya bahwa Yesus adalah Jalan, Kebenaran, dan Hidup. Tapi “universal truth”-nya New Age ini bersumber dari berbagai paham dan budaya, serta bisa jadi sangat erat dengan relativisme yang sangat ditentang oleh Paus Benediktus XVI. Tujuannya pun bukan memuliakan Allah, tapi pencapaian tertinggi potensi manusia. Maka memang aliran ini pasti bertentangan dengan iman ke-Katolik-an kita.
2. Aliran ini menggabungkan aspek kosmologi, astrologi, musik, pengobatan alternatif, alam, dan sebagainya. Apakah ini berarti kosmologi itu pasti salah? Apakah ini berarti musik meditatif yang digunakan mereka itu pasti sesat (terkadang mereka memakai musik instrumental kristiani juga)? Apakah karena mereka memakai pengobatan alternatif, maka setiap penggunaan obat alternatif ini berarti termasuk aliran New Age? For your info, akupuntur dan pengobatan herbal Cina termasuk dalam pengobatan alternatif. Apakah kalau mereka memakai prinsip alam (misalnya fakta tentang energi elektromagnetik tubuh manusia, atau fenomena kekuatan pikiran/law of attraction), maka setiap penggunaan prinsip alam yang notabene adalah fakta ilmiah ini berarti tergabung dalam aliran New Age? Mari kita bedakan antara yang science, dan yang aliran New Age.
Aliran New Age memakai ilmu pengetahuan dan fenomena alam untuk membentuk “universal truth”nya demi meninggikan potensi manusia.
Catatan akhir
Fenomena alam adalah fakta yang terjadi di tengah-tengah kita. Fenomena ini ada yang telah dibuktikan mekanisme prosesnya lewat pendekatan ilmiah kimia ataupun fisika, tapi ada juga yang belum ditemukan teori terjadinya dan masih dalam proses penelitian. Tapi sudah ataupun belum, yang pasti fenomena ini adalah fakta, dan fakta bersifat netral (bukan berarti Katolik, dan bukan juga berarti New Age).
Aliran New Age mengajak orang menggunakan ilmu pengetahuan dan fenomena alam untuk membentuk “universal truth” yang meninggikan potensi manusia.
Iman Katolik mengundang orang menggunakan ilmu pengetahuan dan fenomena alam untuk semakin mengenal, mengasihi, dan melayani Allah dalam pribadi Bapa, Putera, dan Roh Kudus, lewat GerejaNya yang satu, kudus, katolik, dan apostolik.
Tapi ilmu pengetahuan dan fenomena alam selalu netral.
Artinya kita tidak bisa dengan cepatnya menyimpulkan “law of attraction” sebagai “aliran New Age” atau “teologi kemakmuran”, karena tergantung bagaimana fenomena “law of attraction” ini digunakan. Kalau untuk mengejar kekayaan pribadi sebagai satu2nya tanda berkat Allah, maka ini
bisa jadi teologi kemakmuran. Kalau untuk membesarkan potensi pribadi semata-mata, ini bisa jadi New Age. Tapi kalau untuk berbagi kasih dan persaudaraan dengan sesama, ini bisa jadi sangat sesuai dengan iman Katolik. Kenapa? Karena “law of attraction” adalah fenomena alam yang sifatnya netral. Jadi tergantung untuk apa ia digunakan.
Apakah “The Secret” adalah buku yang menyesatkan? Bagi sebagian orang bisa jadi sangat menyesatkan. Tapi bagi saya dan beberapa teman, buku ini sangat membantu mengembangkan iman saya akan kasih Allah yang sungguh besar. Setelah membaca buku ini, saya semakin kagum akan kebesaran Allah yang menciptakan alam semesta dengan segala fenomena dan mekanisme-nya, termasuk kebesaran Allah yang menciptakan manusia dengan kekuatan pikiran yang luar biasa. Apakah kekuatan pikiran ini berarti sesat? Bukan! Bagi yang familiar dengan ilmu biophysics (sekali lagi pure science), pikiran manusia memang terbukti mampu mengalirkan gelombang elektromagnetik sehingga dapat mempengaruhi keadaan sekitarnya. Apakah ini berarti manusia itu hebat? Pastinya. Kenapa? Karena kita diciptakan dengan gambar dan rupa Allah sendiri, maka pastinya hebat. Dan yang paling hebat siapa? Ya jelas Sang Pencipta manusia, yaitu Allah sendiri! Bagi saya, setelah membaca The Secret, hati saya penuh dengan pujian dan pengagungan akan kebesaran Allah kita. Tulisan Paus Yohanes Paulus II “Fides Et Ratio” menjadi sungguh hidup dan bermakna bagi saya – dan saya semakin bangga menjadi umat Katolik.
Namun demikian tentunya ini harus disikapi secara bijaksana. Apakah buku “The Secret” bisa menyesatkan? Tentu saja sangat bisa, apalagi bagi orang-orang yang memang kurang terbuka pada pengalaman kasih dan kuasa Allah. Tapi apakah selalu menyesatkan? Hmm..mungkin yang terbaik adalah penjelasan dari pihak-pihak yang paling berkompeten di bidang ajaran Gereja dan sekaligus well-knowledgable akan perkembangan ilmu pengetahuan, sehingga tidak asal membuat kesimpulan “ini salah” atau “itu sesat”.
Apakah mungkin fenomena alam ini di”tebengi” oleh kuasa gelap atau roh jahat? Ya mungkin saja. Apakah fenomena alam ini pasti mengandung kuasa gelap atau roh jahat? Saya heran dengan orang-orang yang berani bilang pasti…:-)
Mari kita tidak terlalu cepat menghakimi, supaya kita jangan mudah jatuh dalam perpecahan – tapi berjaga-jaga senantiasa di dalam Roh Kudus, sambil terus rendah hati dan tunduk pada GerejaNya.
Hmm..corat-coret pribadi kok jadi kepanjangan ya…:-)
(Tulisan ini adalah sharing pribadi, bukan untuk tujuan pengajaran atau pewartaan. Ajaran resmi pastinya harus berasal dari wewenang mengajar Gereja sendiri, yang di dalamnya kita tunduk dan taat)

Pada acara International AIDS Conference 2006 di Toronto, Vineeta (usia 6) dan Sevilla (usia 4) hadir menemani orang tua mereka untuk membuat film tentang konferensi itu. Mereka mewawancarai ahli AIDS terkenal, aktivis gay, distributor kondom, dan banyak tokoh-tokoh lainnya yang hadir.
Contoh yang paling tepat untuk kualifikasi ini pastinya adalah mendiang Paus Yohanes Paulus II – tidak ada yang bisa meragukan cintanya pada Tuhan (lihat wajahnya dan konsistensinya mempertahankan dan mewartakan kebenaran), tidak ada yang bisa mempertanyakan cintanya bagi orang muda (ia bukan sekedar bicara, tapi juga hadir di tengah2 orang muda, bahkan mengatakan bahwa orang muda adalah tumpuan harapannya bagi Gereja), dan kemampuan komunikasinya telah mengambil hati jutaan orang muda dari berbagai penjuru dunia untuk datang berkumpul merayakan iman dan mendengarkan ia bicara (sekalipun di usianya yang sudah tua!).

